Sekolah Bahasa Tontemboan Ala Sanggar Tumondei

25 Agustus 2016 \\ Sejarah-Budaya \\ 639 Dibaca

Tondano, Kawanuanews.co - Sore perlahan pergi. Satu persatu orang-orang muda itu, laki-laki dan perempuan berdatangan. Mereka menuju ke sebuah tempat di halaman asrama mahasiswa UNIMA, Tondano. Di situ ada semacam pondasi beton yang bagian atasnya rata bisa untuk tempat duduk berapa orang.

Orang-orang muda itu adalah mahasiswa dari beragam fakultas di UNIMA. Kebanyakan mereka berasal dari wilayah adat Tontemboan, tapi ada dua orang asal Tombulu. Beberapa adalah mahasiswa penghuni asrama itu, yang lainnya dari tempat kos.

Beberapa teman mereka sudah menunggu di tempat itu. Lainnya masih berdatangan dari bilik asrama mereka masing-masing.

“Torang kwa mo belajar bahasa Tontemboan dan aksara Malesung,” ujar Della Palapa.

Della aktif di Sanggar Tumondei. Ia sejak berapa tahun terakhir ini giat dalam kegiatan-kegiatan budaya di sanggar yang pusatnya di wanua Tondei, Minahasa Selatan.

Mereka yang sudah berkumpul langsung mengambil posisi duduk berjejer di pondasi beton itu. Jumlah mereka yang berkumpul, kali ini agak berbeda dari pertemuan sebelumnya. Biasanya hanya satu dua orang saja soalnya. Tapi sore ini yang berkumpul sekira 12 orang.

Beberapa di antara mereka tampak memakai kain berwarna merah di kepala. Mereka menyebut itu dengan nama “bandana katoluan”. Khas Minahasa.

Sebelum acara dimulai, Della mengambil smartphone-nya dan menekan tombol kamera. Ia mau mengabadikan momen itu. Sebuah foto selfie, dirinya bersama Iswan Sual memakai ‘bandana katoluan’. Foto itu kemudian langsung diunggah di wall Facebooknya.

Hari itu, Selasa 23 Agustus. Ini adalah kali keempat kegiatan belajar bahasa Tontemboan dan aksara Malesung yang difasilitasi oleh Sanggar Tumondei.

“Guru” setiap pertemuan adalah Iswan Sual, pendiri sanggar dan sekarang ini giat mempromosikan bahasa Tontemboan dan aksara Malesung. Iswan harus berusaha membagi waktunya untuk aktivitas ini. Selain pegiat budaya ia juga adalah karyawan swasta. Ia dan beberapa lainnya, tahun lalu mendirikan sebuah komunitas budaya yang mereka namakan Pinaesaan Tontemboan (Piton). Ia adalah pemimpin di organisasi ini. Ketika semua sudah terkumpul pembelajaran pun di mulai.

Iswan, sang guru mengambil posisi duduk di tengah menghadap teman-temannya. Ada laptop berwarna hitam yang ditaruh di tangan kursi.

Metode belajarnya tidak seperti di kelas. Ini metode belajar “bacirita”. Santai tapi serius. Sesekali gelak tawa pecah di ujung ceramah sang “guru”. Nampaknya asyik benar mereka belajar. Ini karena metode belajarnya yang sesuai dengan dunia mereka. Tempatnya yang nyaman membuat suasana lebih nikmat.

Sore itu Iswan datang dari Manado, tempat dia bekerja. Tapi Iswan akrab dengan kampus itu. Beberapa tahun lalu ia kuliah di Fakultas Bahasa dan Seni di universitas itu. Ia bahkan pernah menjadi pimpinan mahasiswa di kampus ini.

“Torang suka blajar lantaran ja mangiri dengar tu tamang-tamang deri daerah laeng. Kalu dorang so takumpul smo bicara dorang pe bahasa kampung,” kata Meity Sengkey ketika ditanya alasan dia belajar Tontemboan.

“Setiap Selasa, sebenarnya, torang nda cuma blajar bahasa Tontemboan. Torang lei belajar batulis deng aksara Malesung. Kita rasa keterampilan ini unik deng akan bermanfaat nanti for torang pe anak cucu. Ini demi pelestarian warisan leluhur,” tambahnya.

Yanli Sengkey, ketua Sanggar Tumondei dan Ukung di PITON Motoling Barat senada dengan Meity, cewek semester awal itu.

“Ini kegiatan (belajar bahasa Tontemboan, red) kwa’ kegiatan rutin tiap Selasa deri torang pe komunitas budaya. Mumpung tare’ ada tu mo memberi diri mengajar jadi torang lei siap waktu. Jarang-jarang ada orang bagitu,” kata Yanli.

“Kelas” sekolah bahasa Tontemboan itu berlangsung kira-kira 2 jam. Iswan, guru di kelas itu menguasai betul materi. Ia mengajar dengan sangat baik. Cara dia mengajar sederhana tapi mudah dimengerti. Wajar, karena Iswan memang belajar ilmu mengajar itu.

Sebelum kelas usai, Iswan sempat mengungkapkan kritiknya terhadap beberapa kegiatan budaya Minahasa sekarang ini. Iswan mengatakan bahwa ia sudah jenuh dengan kegiatan-kegiatan diskusi budaya di Tanah Minahasa akhir-akhir ini. Iswan pun mengungkapkan komitmennya untuk berkarya bagi tanah Minahasa.

“Setiap kalu diskusi, yang kita banya dengar cuma keluhan-keluhan deri peserta diskusi yang katanya dorang itu pemerhati budaya. Dorang salalu bilang ‘O bahasa daerah musti dijaga, mar dorang sandiri so nda suka bahasa bicara bahasa daera pa dorang pe keluarga. Pemerintah musti beking itu jadi mata pelajaran wajib di skola’ dan sebagainya. Kita so pastiu deng tu mengeluh babagitu. Kita lebe suka bagera. Nanti baku iko jo tu laeng,” ujarnya serius.

Kelas sekolah belajar bahasa Tontemboan dan aksara Malesung selesai. Hari sudah sangat sore. (Redaksi Kawanuanews.co)

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.