Secangkir Kopi Susu di Terminal Karombasan

30 Agustus 2016 \\ Sejarah-Budaya \\ 378 Dibaca

Terminal Karombasan di suatu siang akhir Agustus 2016:

Namanya terminal, pastilah di waktu siang pada hari kerja ramai dengan orang-orang dari berbagai penjuru. Beberapa bus diparkir tidak teratur. Para sopir hanya menyisahkan ruang sempit cukup satu bus keluar masuk. Terminal ini semakin terasa sesak.

Di sebuah sudut terminal itu ada rumah kopi. Luasnya mungkin hanya 3x4 meter. Dapur langsung terhubung dengan ruang utamanya. Lemari yang ada di samping pintu masuk terpajang kue pia. Bagian lainnya ada beberapa menu makan siang khas rumah kopi itu. Beberapa kursi dan meja diatur rapi. Jadi sebenarnya tempat itu bukan rumah kopi lagi, melainkan sudah menjadi rumah makan.

“Kopi susu deng pia,” kata saya pada lelaki pemilik rumah kopi itu. “Pia apa, om?”

“Pia temo,” jawabnya.

“Oh, itu jo.”

Di depan rumah kopi itu sejumlah mobil Toyota Hiace produksi tahun 1980 terparkir menuggu penumpang. Ia melayani trayek Manado-Kawangkoan, Manado-Langowan dan Manado-Tareran. 

Para kenek meneriakan nama tujuan mobil angkotnya.

“Tomohon...Tomohon....”

“Tareran....Tareran....”

“Langowan...Langowan...”

Teriakan itu bersahut-sahutan. Khas sebuah terminal.

Seorang lelaki berbadan tegap, kira-kira usianya 50-an tahun masuk ke rumah kopi itu. Tapi ia hanya duduk, tidak memesan kopi atau kue. Seorang lelaki lain yang lebih dulu duduk memesan menu untuk makan siang.

“Odoh, kita da nonton di tv tadi malam, di negara mana stou oto so boleh ba jalang sandiri nda pake sopir,” ujar si lelaki yang hanya duduk-duduk santai itu.

Orang-orang lain di dalam rumah kopi rupanya tertarik dengan info si lelaki yang bicara.

Lalu, mereka pun terlibat bacirita. Dari soal mobil super canggih sampai pemilihan hukum tua di kampung mereka. Rumah kopi yang semula sepi kini ramai dengan acara bacirita antar sesama pengunjung.

Di terminal ini terdapat sebuah gedung dua lantai yang memanjang. Di lantai satu kios-kios berjejer. Di lantai dua dulunya ada bioskop, tapi sekarang sudah diganti menjadi kios-kios pula. Di belakang gedung terdapat jalan, yang di seberangnya itulah pasar Pinasungkulan Karombasan tapi lebih populer disebut dengan pasar Karombasan.

Para pedagang di pasar ini bermacam-macam. Ada orang-orang Minahasa, misalnya dari Tinoor, Tomohon, Pineleng dan dari tempat lain di pegunungan Minahasa. Pedagang lainnya yang cukup banyak berasal dari Gorontalo. Mereka biasa menjual pakaian atau bahan-bahan dapur lainnya. Di pasar ini berbegai jenis ikan laut di jual, baik yang segar maupun yang sudah dikeringkan atau diasap. Daging babi dan RW juga ada di pasar ini. Orang-orang Tomohon atau sekitarnya yang bekerja di Manado, ketika akan pulang ke rumah sering mampir dulu di pasar ini untuk berbelanja. Di sebelah pasar terdapat sungai yang berasal dari Gunung Mahawu, namanya sungai Sario.

“Cakalang jo, om,” sapa seorang pedagang.

“Rica tanta,” pedagang lain membalas.

“Eh, napa dia tude masih fresko,” ujar yang lain.

Di pasar ini bahasa Melayu Manado gunung dan pasar bercampur. Ada yang menyebut ‘kita’, ala Melayu Manado, yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘saya’ atau ‘aku’ itu dengan mengejanya menjadi ‘kitya’, tanda si penutur itu dari gunung. Kalau bukan Kawangkoan, Tareran, ia mungkin berasal dari Langowan. Sepertinya halnya ketika menyebut ‘pisang’, mereka mengejanya dengan ‘pisyang.’ Orang-orang Gorontalo juga menambah keragaman dialek Melayu-Manado. Pokoknya, di pasar ini keragaman kota Manado tergambar jelas.

Ketika melewati sejumlah kios dekat pintu masuk ke terminal, para penjual pulsa akan menyapa orang-orang yang lewat di situ.

“Pulsa jo, om.”

“Pulsa data, cewek.”

Ziarah ke Menado Tempo Dulu

Pasar Karombasan nanti ada tahun 1970-an. Di masa Manado tempo dulu, ada sejumlah pasar yang beberapa di antaranya langsung bergandengan dengan terminal. Pasar-pasar itu sudah dibangun sejak zaman kolonial.

“Pasar tertua di Kota Manado adalah pasar Minahasa,” tulis Fendy E.W. Parengkuan, dkk dalam Sejarah kota Manado, 1945-1979 (1986).

Pendeta Nicolaus Graafland, Zendeling dari Belanda yang datang ke Minahasa pertengahan abad 19, dalam bukunya De Minahassa. Haar verleden en haar tegenwoordige toestand (1867) menggambarkan situasi dua pasar di Manado masa itu:

”Terdapat dua pasar, satu untuk barang keing, yang lebih dikhususkan untuk penjualan berjenis-jenis kain lena, dan satu lagi untuk barang basah. Di sana anda melihat pemandangan dagang eceran orang pribumi. Gudang terbuat dari kayu, yang luas, yang di segala sisi terbuka, yang bubungannya terletak di atas tiang yang kuat, dapat bertahan bertahun-tahun. Untuk para penjual telah disediakan meja terbuat dari bambu, yang baik, yang di atasnya dijajakan barang jualan barang jualan mereka, dan bangku tempat para penjual duduk-duduk atau sedang berbaring-baring.”

Graafland menulis, di belakang pasar itu terdapat Sungai Manado. Sungai itu dekat muaranya, yang katanya cukup lebar untuk kapal besar tapi tidak terdalam. Dapat dipastikan yang Graafland maksud adalah pasar tua di Manado. Pasar itu berada di kawasan yang sekarang ini  bernama pasar 45, pecinaan dan shooping center. Itulah pasar Minahasa.

Para pedagang Minahasa dari gunung membawa bahan jualan mereka dengan roda sapi atau pedati. Roda-roda sapi itu berkumpul di satu tempat dekat pasar. Tempat itulah yang sekarang ini populer dengan nama ‘Jarod’, jalan roda. Sekarang ini, Jarod bukan lagi tempat parkir roda-roda sapi, melainkan sudah menjadi tempat orang-orang berkumpul, bacirita sambil minum kopi.

Pasar Minahasa adalah pasar teramai di kota Manado hingga menjelang tahun 1960-an. Ketika semakin banyak orang Manado yang punya mobil dan jalan-jalan sudah terhubung dengan pusat-pusat kecamatan sekitar, di pasar itu terbentuk pula terminal. Seiring perkembangan kota, terminal Pasar Minahasa semakin terasa sesak.

“Karena kepadatan lalulintas maka terminal di Pasar Minahasa dipindahkan ke Calaca”, tulis Parengkuan dkk.

Parengkuan dkk menuliskan lagi,  di belakang Pasar Minahasa dibangun pasar Cita dan menjelang tahun 1960 berdirilah pasar delapan yang letaknya lebih ke selatan. Dalam masa pelita II (sekitar tahun 1969 sampa 1974 pasar Delapan dihapuskan.

“Gantinya adalah pasar Karombasan I dan II,” tulis mereka.

Novline Rewah, yang di kala itu kanak-kanak masih mengingat kota Manado di tahun-tahun itu. Ia sering diajak ayahnya jalan-jalan ke pasar atau bendar Kota Manado masa itu. Novline yang sekarang ini bermukim di Belanda ketika diuhubungi melalui pesan Facebook mengatakan, seingat dia Pasar dan Terminal Karombasan mulai ramai akhir tahun 1970-an. Di Wanea, sekarang ini adalah lokasi Wanea Plaza,  di tahun itu ada Pasar Delapan dan Pasar Sembilan. Novline tidak tahu persis mengapa nama pasar itu menggunakan nama angka, Delapan dan Sembilan.  

“Di muka pasar itu ada terminal. Kompleks Koran Cahaya Siang dulu. Di situ tampa oto-oto besar,” kata Novline.

Di Pasar Delapan dan Pasar Sembilan, menurut Novline ada beberapa rumah kopi. Ayahnya sering mengantar dia jalan-jalan di pasar-pasar itu. Di pasar Delapan dan Pasar Sembilan itu ayah sering minum kopi.  

Tak terasa hari semakin siang. Sekitar sejam saya berada di rumah kopi terminal itu. Ah, rumah kopi memang tampa bacirita. Dari rumah kopi di sudut terminal Karombasan, sejenak seolah di antar ke masa lampau Kota Manado. (Denni Pinontoan)

Komentar
Leave a reply.