Pst. Prof. Dr. Yong Ohoitimur: Ungkapan Penuh Kebencian, Bikin Komunikasi Jadi Negatif

09 September 2016 \\ Agama & Pendidikan \\ 11668 Dibaca

Manado, Kawanuanews.co - Guru Besar Filsafat Metafisika pada Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Pst. Prof. Dr. Yong Ohoitimur mengatakan, ketika media sosial menjadi medan ungkapan penuh kebencian, caci maki, ancaman, dan ungkapan negatif  lain, maka yang buruk secara etis ialah terciptanya suasana komunikasi yang negatif. Ini disebabkan karena hilangnya respek atau suasana dengan kualitasnya moral yang baik.

Ohoitimur mengatakan itu ketika ditanya kawanuanews.co pendapatnya dari perspektif etika mengenai cara orang berkomunikasi di media sosial yang sering mengarah pada hate speech atau ujaran kebencian melalui WhatsApp (WA), Kamis (08/09).

“Jadi, ungkapan-ungkapan yang memuji atau pun yang menghina atau mencaci sebetulnya tidak benar-benar mencerminkan etika para netizen, karena tidak menyentuh totalitas pribadi seseorang,” lanjut akademisi yang pernah belajar filsafat pada Institut Filsafat Universitas Katolik.

Ohoitimur memberi ilustrasi tentang suasana di tempat kerja yang dipenuhi dengan gosip, kata-kata kasar dan kotor. Suasana kerja yang seperti itu, katanya,  jelas menunjukkan bahwa kantor tersebut kehilangan suasana moral yang baik.

“Hal yang sama terjadi juga pada media sosial di cyber world, dunia maya,” lanjutnya.

Ukurlah dengan 3 Takaran

Namun menurutnya, komunikasi itu adalah salah satu bentuk ekspresi diri. Komunikasi merupakan tanda adanya kehidupan, tidak adanya komunikasi berarti mati. Komunikasi menjadi ciri khas terjadi yg hidup.

“Tapi kualitas komunikasi sangat ditentukan oleh kualitas emosi. Emosi positif membuat komunikasi baik dan menyenangkan; emosi negatif membuat komunikasi buruk dan menyakitkan,” ujarnya.

Revolusi teknologi informasi, seperti media sosial, membuat ekstensi komunikasi sekarang ini menjadi sangat besar dan luas. “Orang begitu mudah berkomunikasi dan mengekspresikan diri dengan siapa saja kapan saja di mana saja,” kata doktor dari Fakultas Filsafat Universitas Gregoriana, Roma (Italia) ini.

Kata Ohoitimur, di media sosial, orang-orang tidak dapat mengungkapan dirinya secara mendalam, kurang dipikirkan atau direfleksikan sebelum ditulis. Karena media sosial membuat, nyaris semua perasaan, pikiran, pengalaman, positif dan negatif, juga yang netral, cenderung tersingkir.

Jadi bagaimana etika berkomunikasi di media sosial?

Ohoitimur mengusulkan suatu metode  yang disebutnya ‘3 takaran.”. Yaitu cara mengukur apa yang hendak ditulis dan dibagikan di media sosial dengan tiga takaran ini: Benar, Bermanfaat dan Filter. Dia mengajak para netizen untuk mengukur apa yang ditulis, apakah itu ‘benar’ atau baik dalam arti menghargai orang lain. Kedua, ukur apakah yang akan ditulis dan dibagikan ‘bermanfaat’, paling kurang dianggap bermanfaat bagi pembaca? Ketiga, jika yang hendak ditulis berupa  kritikan yang akan dikemukakan kepada seseorang atau informasi suatu kejadian, ‘filter’ itu sebaiknya dipakai.

“Filter etis ini relevan juga jika kita ingin menyangkal pendapat atau tindakan seseorang,” tandas Ohoitimur. (Denni Pinontoan)

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.