Pembaharuan Teologi dan Sistem Kelembagaan GMIM Mendesak Dilaksanakan

11 Oktober 2016 \\ Manado \\ 1763 Dibaca

Tomohon, KawanuaNews - Desakan pembaharuan struktur dan sistem kelembagaan serta teologi di dalam tubuh lembaga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) mengemuka dalam diskus panel bertajuk “Membedah Persoalan GMIM dan Gerakan Membangun Pembaharuan Berbasis Jemaat,” Senin (10/10) di Aula UKIT YPTK-GMIM, Tomohon. Kegiatan yang difasilitasi oleh Gerakan Transformasi GMIM tersebut digelar dalam rangka mengkaji secara akademik sejumlah persoalan di GMIM yang mengemuka beberapa tahun terakhir ini.

Diskusi yang dimoderatori oleh Alfian Komimbin ini diawali dengan pemaparan prawacana sejumlah tokoh gereja dan akademisi GMIM.  

Persoalan pertama yang dibahas adalah Kerjasama antara rumah-rumah sakit miliki GMIM yang diselenggarakan oleh Yayasan Medika dengan PT. Kimia Farma Apotek, sebuah anak perusahaan BUMN PT. Kimia Farma yang menyediakan layanan kesehatan farmasi (apotek), klinik kesehatan, laboratorium klinik dan optik. Kerjasama dengan PT. Kimia Farma Apotek ini telah dilaksanakan sejak awal tahun 2015 lalu.

Dr. Royke Burhan, warga GMIM yang telah melakukan kajian terhadap kerjasama ini mengungkapkan sejumlah persoalan, di antaranya kerugian yang dialami oleh rumah-rumah sakit GMIM akibat kerjasama tersebut. Dalam presentasinya dr. Royke Burhan juga menampilkan foto kwitansi yang diberikan pihak RSU GMIM Bethesda kepada Ketua BPMS dan sejumlah wakilnya. Dalam redaksi di kwintansi, uang yang diberikan tersebut disebut “Biaya Perpuluhan” dengan besaran Rp. 10.000.000.

Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang, dosen di Fakultas Teologi UKIT dan mantan Ketua Panitia Pemilihan Rektor UKIT tahun 2005 menjelaskan persoalan intervensi penyelenggaraan UKIT oleh gereja. Pada tulisannya yang dipublikasikan di blog dan buku menjelaskan kronologi awal masalah UKIT yang intinya menjelaskan, bahwa persoalan UKIT yang masih berlanjut hingga kini berasal dari kepentingan pribadi oknum mantan rektor UKIT periode tahun 1999-2005 yang kemudian menjadi ketua BPS periode 2005-2009. Persoalan pribadi terssebut telah dibuatnya menjadi urusan kelembagaan GMIM.

Denni H.R. Pinontoan, dosen pada Fakultas Teologi UKIT dalam penjelasannya di diskusi panel tersebut mengemukakan, berdasarkan analisanya dari masalah-masalah yang mengemuka di GMIM satu dekade ini akar persoalan dari semua masalah itu adalah struktur dan sistem kekuasaan dalam lembaga GMIM. Dia menganalisa mekanisme dan struktur kelembagaan berdasarkan Tata Gereja 2007 serta praktek kepemimpinan. Ditemukan bahwa, sistem bergereja seperti yang disebut di Tata Gereja ini, yaitu presbyterial-sinodal telah didesain sedemikian rupa menjadi sistem yang hirarkhi mirip sistem kekuasaan gereja abad pertengahan yang berpuncak pada paus.

Dengan sistem seperti ini, BPMS memiliki kekuasaan yang sangat besar sehingga dapat dengan  mudah dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menjalankan kepentingannya.  

”Oleh pengkaji hukum gereja dan ekklesiologi menyebut sistem ini dengan istilah hierarki berkedok doularki. Yaitu, sistem kepemimpinan bergereja yang hierakhis tapi berkedok kehambaan. Bisa saja ia tersamar dalam sistem presbyterial-sinodal, sinodal-presbyterial atau juga kongregasional,” kata Pinontoan.

Dr. Max G. Ruindungan, tokoh jemaat GMIM Musyafir, Kleak, Manado mengatakan, dalam teori psikologi kekuaasaan dikenal dua jenis kekuasaan, yaitu kekuasaan pribadi dan kekuasaan institusi. Dia menganalisa, persoalan-persoalan yang terjadi di GMIM beberapa tahun terakhir ini karena antara lain dominasi kekuasaan pribadi yang memanfaatkan kekuasaan institusi. “Konflik-konflik yang terjadi beberapa bulan terakhir ini menunjukkan gejala itu. Konflik kekuasaan pribadi antara beberapa orang yang terjadi di dalam institusi,” ujar pakar psikologi pendidikan ini.

Pdt. Dr. Jonely Ch. Lintong, direktur Program Pascasarjana Teologi UKIT dan pendeta GMIM dalam penjelasannya di diskusi panel tersebut mengemukakan, bahwa meski Tata Gereja adalah sumber hukum dan pedoman berorganisasi dalam gereja, namun pada beberapa hal ditemukan persoalan kaitan dengan pemahaman dan mekanisme kerja dari tingkat jemaat hingga sinode.

“Oleh tata gereja 2007, sepertinya GMIM telah menjadi gereja yang ‘pendeta-sentris. Di tingkat jemaat, memang pendetanya hanya satu orang sebagai ketua jemaat. Namun telah terbentuk pemahaman di kalangan warga gereja, bahwa pendeta adalah segala-galanya. Apalagi di tingkat sinode. Sangat pendeta-sentris,” ungkapnya.

Frangky Mantiri, warga GMIM dan praktisi hukum mengatakan, dari pengamatannya terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di GMIM akhir-akhir ini, kebanyakan bersoal dengan hukum negara. Menurut dia, antara hukum gereja dan hukum negara tidak boleh tumpang tindih. Maka menurut dia, pemahaman mengenai posisi kedua hukum tersebut harus dipahami oleh setiap warga gereja, terutama para pemimpin gereja.

Desakan Pembaharuan untuk GMIM

Para peserta diskusi yang hadir terdiri dari sejumlah kalangan warga GMIM, mulai dari pemuda, kaum bapak, kaum ibu, pendeta dan aktivis gereja. Mereka sepakat mendesak agar pembaharuan dalam bergereja di GMIM segera digalakkan. Sejumlah persoalan yang berangkat dari pengalaman bergereja mulai dari tingkat jemaat hingga sinode dan lembaga-lembaga pelayanan satu persatu diungkap oleh para peserta diskusi panel tersebut.

Tommy Pangemanan, warga jemaat GMIM Kuranga, Talete Tomohon mengatakan, salah satu persoalan yang menurut dia menjadi penyebab terjadinya masalah-masalah di GMIM adalah posisi dan kedudukan ketua jemaat dan ketua wilayah yang kewenangan penetapan dan penempatan langsung oleh BPMS.

“Saya usul, dalam rangka pembaharuan gereja di GMIM, ke depan ketua jemaat dan ketua wilayah harus dipilih. Berikut, perlu ada seleksi ketat warga GMIM yang akan menjadi pendeta. Karena di lapangan kami sebagai warga jemaat melihat ada pergeseran pada banyak pendeta mengenai arti menjadi pendeta yang tidak lagi benar-benar dihayati sebagai pekerjaan melayani,” ujar Pangemanan.

“Waktu perumusan tata gereja 2007, saya sempat mengusulkan agar penetapan ketua jemaat dan ketua wilayah dipilih, seperti pemilihan ketua BPMS. Tapi sayang usulan saya itu tidak diterima,” kata Pdt. Lintong menanggapi.   

Merry Wajong, Bendahara Yayasan GMIM Ds. A.Z.R. Wenas yang hadir dalam diskusi panel tersebut, sepakat bahwa memperhatikan situasi bergereja di GMIM sekarang ini, maka pembaharuan harus semakin dimantapkan.

“Kita perlu menyampaikan persoalan-persoalan ini kepada semua warga jemaat GMIM agar mereka tahu apa yang sedang terjadi pada kepemimpinan lembaga mereka di tingkat sinode,” ujar Wajong.  

Ketua Badan Pengurus YPTK-GMIM, John Mailangkay, selain mengungkap beberapa fakta tentang konflik UKIT, dia juga menyatakan himbauan kepada seluruh warga GMIM untuk melihat secara kritis masalah-masalah di GMIM sekarang ini dan bersama-sama dalam gerakan pembaharuan GMIM.

Lefrando Gosal admin grup Transformasi GMIM yang telah mengkordinir kegiatan diskusi panel ini mengatakan, salah satu tujuan dari percakapan ini adalah untuk membedah secara mendalam dan menyeluruh persoalan-persoalan yang mengemuka di GMIM beberapa tahun terkhir ini dengan maksud warga GMIM akan mendapat informasi berdasarkan fakta dan kemudian dapat bersama-sama membangun gerakan pembaharuan.

Pdt. Vera Loupatty, dosen Fakultas Teologi UKIT yang sementara menyelesaikan studi doktoralnya di bidang hukum gereja pada Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mengemukakan, dalam kajiannya  ditemukan bahwa pada Tata Gereja 2007 dan adendumnya sistem bergereja benar-benar sangat hierarki. Dengan demikian, menurutnya gerakan pembaharuan yang berbasis jemaat harus menyentuh aspek pemahaman atau pola pikir.

“Tata gereja dan hukum negara pada beberapa aspek sama. Tapi, tata gereja dalam ekkleisologi kita berpusat pada kekuasaan Tuhan Allah seperti yang dituliskan dalam alkitab. Pembaharuan gereja harus diarahkan pada perubahan paradigma bergereja yang lebih terbuka, tidak hierarkis, memiliki spiritualitas keugaharian dan hospitalitas namun bukan berarti tanpa lembaga,” ujar Loupatty. (Redaksi KawanuaNews.co)

 

Foto: Greenhill Weol

   

  

Komentar
Leave a reply.