Nelayan Pantai Panglima Terjajah oleh Reklamasi

16 Agustus 2016 \\ Lingkungan & Kesehatan \\ 366 Dibaca

Manado, Kawanuanews.co - Di tengah kemeriahan masyarakat Sulawesi Utara merayakan HUT Proklamsi RI ke-71 tahun, sekelompok nelayan di Manado hidup di ruang yang semakin sempit karena reklamasi. Kawasan kecil yang biasa warga sebut Pantai Panglima ini terletak di Kel. Sario Tumpaan, Kec. Sario Kota Manado.

Danny Telleng, nelayan di pantai Panglima kepada Kawanuanews.co Selasa (16/08) mengatakan, meski kemerdekaan negara Indonesia sudah berusia 71 tahun, namun nasib nelayan di Pantai Panglima masih dalam keadaan terjajah.

“Terjajah oleh reklamasi pantai, para pengusaha dan banyak hal lain lagi,” ujar Telleng.

Untunglah, lanjut Telleng, menteri Kelautan dan Perikanan sekarang adalah Susi Pudjiastuti. Banyak kebijakan dari sang menteri yang menurut dia menguntungkan para nelayan.

“Contohnya menyangkut bantuan kapal untuk tahun anggaran 2016-2017 kepada nelayan. Pengadaannya dilakukan secara transparan, sesuai aturan dan dengan pengawasan yang ketat,” kata Telleng.

Para nelayan di Pantai Panglima adalah anggota Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra). Pusat kegiatan Antra berada di Daseng Panglima, sebuah bangunan setengah terbuka yang menghadap langsung ke pantai.

Antra berdiri pada bulan April 2009. Para penggagasnya adalah para aktivis beberapa LSM di Sulut, antara lain Kelola, Walhi dan AMMALTA. Antra adalah sebuah organisasi yang berbentuk federasi dengan tujuan memperjuangkan hak-hak para nelayan.

Menurut Telleng, Daseng Panglima dibangun sebagai lambang perlawanan nelayan terhadap ketidak adilan. Kegiatan-kegiatan mereka lakukan di tempat itu didanai dari usaha sendiri.

“Pantai panglima merupakan sebuah ruang kecil tempat tambatan kapal nelayan. Di sini juga kami menanam bakau untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan,” tambah Telleng.

Tempat itu, lanjut Telleng adalah hasil negosiasi mereka para nelayan dengan para pengusaha yang berkepentingan dengan reklamasi di kawasan itu. Perjanjian itu merupakan pegangan bagi para nelayan. Sebab, jika Pantai Panglima ikut direklamasi maka mereka akan terusir dari sumber kehidupan.

“Kami nelayan akan melakukan perlawanan jika hak kami dirampas atau ketika misalkan perjanjian itu dilanggar oleh pihak-pihak tertentu yang menginginkan reklamasi penuh untuk menggeser ruang pantai panglima milik nelayan,” tandas Telleng.

Telleng dan teman-teman lainnya adalah korban reklamasi pantai Manado. Ijin reklamasi sudah diberikan pemerintah kepada para pengusaha sejak tahun 1990-an. Ketika reklamasi dilakukan, ratusan nelayan terusir dari tempat itu. Kian hari ruang bagi mereka untuk melakukan aktivitas nelayan kian sempit. Seratusan perahu milik para nelayan tidak lagi dapat ditambatkan di pantai panglima. Reklamasi pantai telah berdampak buruk bagi kehidupan para nelayan di sini. (Ryan Jhoe)

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.