Munculkan Polemik, Gubernur Tolak Dikukuhkan Sebagai "Tonaas Wangko Umbanua"

03 November 2016 \\ Sulut \\ 7982 Dibaca

Manado, KawanuaNews.co - Pengukuhan Gelar Adat "Tonaas Wangko Umbanua" untuk Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw memunculkan polemik di kalangan masyarakat adat di Minahasa. Di antara tokoh-tokoh adat, pemimpin organisasi adat serta pegiat budaya Minahasa memiliki pendapat beragam mengenai pengukuhan ini.

Menanggapi hal tersebut, Dondokambey enggan memberi banyak komentar. Gubernur hanya mengatakan, tidak mau dikukuhkan lantaran masih ada perbedaan pendapat di kalangan tokoh-tokoh adat.

"Saya belum lihat ini, rapat adat masih berbeda persepsi, saya ngak mau," kata Dondokambey kepada kawanuanews.co, kamis (03/11) di kantornya.

Sebelumnya, Ketua Presidium Majelis Adat Minahasa (MAM) dr Bert A Supit dalam diskusi di media sosial mengatakan bahwa MAM telah bertemu dengan Dondokambey dan Kandouw untuk meminta pembatalan atas penganugrahan gelar adat bagi mereka.

"Delegasi MAM sudah bertemu dengan Gubernur dan Wakil Gubernur dan meminta untuk membatalkan acara penganugrahan gelar adat versi Bupati Minahasa karena menurut MAM tidak sesuai dengan adat Minahasa," tulis Supit.

Ditambahkannya, Bupati Minahasa (Jantje Wowiling Sajow .red) mau memaksakan tetapi Gubernur bersedia mendengar pendapat MAM.

Sementara itu, Budayawan Minahasa Fredy Wowor menilai pengukuhan gelar adat sebenarnya otomatis bagi kepala daerah. Yang terpenting adalah kualitas kepemimpinan dari kepala daerah tersebut.

"Menurut kita dalam posisi institusional sebagai pemimpin negeri yakni sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur mereka niscaya telah berada dalam posisi melaksanakan tugas sebagai Tonaas. Bagaimana mereka melaksanakan tugas, berhasil atau tidak, akan dinilai oleh masyarakat nanti," kata Wowor yang kesehariannya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya UNSRAT.

Ditambahkannya, "Keberhasilan mereka memimpin masyarakat biasanya diukur dalam hal sejauh mana kebijakan-kebijakan pemerintahan mereka dapat meningkatkan kualitas masyarakat. Nama baik mereka akan ditentukan oleh kebaikan tindakan mereka dalam melindungi dan menuntun kehidupan masyarakat." Ujar pegiat kebudayaan di Mawale Cultural Centre.

Pendapat juga muncul dari budayawan dan penulis Minahasa yang bergiat di Mapatik Minahasa, Kalfein Wuisan. Menurutnya, "Karena Tona'as adalah capaian kualitas seorang manusia Minahasa, maka seharusnya ia tidak menjadi gelar. Apalagi menjadi gelar politis, sayang sekali, sesuatu yang sakral menjadi profan." (Meliza)

Komentar
Leave a reply.