Membendung Air, Hanyutkan Kearifan Leluhur

03 November 2016 \\ Laporan Khusus \\ 3428 Dibaca

Laporan Denni Pinontoan

Airmadidi, KawanuaNews.co - Puluhan Waruga atau makam para leluhur Minahasa yang berbentuk rumah terbuat dari batu di Desa Kuwil, Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara terancam rusak dan direlokasi. Pembangunan Bendungan di lokasi itu sementara berjalan. Alat-alat yang meratakan tanah seperti monster yang siap memangsa ‘rumah-rumah jiwa’ para leluhur di situ. Pilihan untuk menyelamatkan waruga-waruga di situ adalah relokasi. Namun, nilai sejarah dan budaya yang berharga bukan hanya badan waruganya, melainkan juga lokasi, tempat yang telah dipilih oleh para leluhur. 

Gara-gara Pembangunan Bendungan

Ide pembangunan Bendungan Kuwil-Kawangkoan sudah dicetuskan sejak sekitar tahun 2013 lalu. Pemerintah Sulawesi Utara yang waktu itu gubernurnya Sinyo Harry Sarundajang adalah pihak yang mengusulkan pembangunan bendungan di lokasi itu ke pemerintah pusat. Bendungan ini nantinya akan melintang pada daerah aliran sungai (DAS) Tondano. Sungai ini sekaligus menjadi pembatas antara dengan Desa Kuwil dengan Desa Kawangkoan.

”Pemerintah pusat sudah menyetujui pembuatan bendungan Kuwil, bersama dengan sejumlah mega proyek di Sulut,”kata Sarundajang seperti diberitakan Sulutonline.com, 21 November 2013.

Maksud pembangunan bendungan seperti yang dipikirkan waktu itu adalah untuk mengantisipasi ketersedian air bersih. Sarundajang mengatakan, dalam sebuah riset, nantinya puluhan tahun ke depan, masyarakat Sulut akan kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

“Bendungan Kuwil ini sangat penting bagi masyarakat Sulut. Sebab, selain untuk mengendalikan banjir, juga sebagai sumber air bersih dan bisa menjadi objek pariwisata,” katanya lagi.

Peraturan Daerah (Perda) Pemerintah Kabupaten Minahasa No. 01 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Minahasa Utara 2013-2033 pada bagian sistem jaringan sumber daya air memang menyebutkan pula mengenai rencana pembangunan waduk multifungsi, bahkan bukan hanya  satu, melainkan dua, yaitu di  Desa  Kuwil-Kawangkoan Kecamatan  Kalawat dan di  Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi. Keduanya dilewati oleh sungai Tondano.

Rencana tersebut dipertegas pula pada Perda No. 1 tahun 2014 tentang RTRW Provinsi Sulawesi Utara tahun 2014-2034, yang juga menyebutkan rencana pembangunan bendungan di Desa Kuwil dan Sawangan.

Kontrak pekerjaan pembangunan bendungan Kuwil  untuk  Paket  I  dan  II ditandatangani pada bulan Juli lalu. Situs pu.go.id melansir, perjanjian Paket I, ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan II Sulawesi I,  Lydia  Karema  dan  Koko  Cahyo  Kuncoro  dari  PT  KSO  Wijaya  Karya  (Persero)  sebagai  pihak kontraktor.  Untuk  nilai  konstruksi  Paket  I  mencapai  Rp  783,2  miliar  yang  bersumber  dari  APBN 2016-2020 dan terdiri dari pengerjaan terowongan dan bendungan utama.

Penandatangan  perjanjian  Paket  II  dilakukan  oleh  PPK  Bendungan  II  Sulawesi  I  dan Firmansyah  dari  PT  Nindya  Karya  (Persero)  sebagai  pihak  kontraktor.  Paket  II  terdiri  dari pengerjaan  jalan  akses,  terowongan,   intake,  pelimpah  dan  fasilitas  kontruksi  dengan  nilai konstruksi sebesar Rp 640 miliar. Lama  pengerjaan  Paket  I  dan  II  diperkirakan  mencapai  1.460  hari  kalender,  dengan  masa pemeliharaan 365 hari kalender.

Kepala  Balai  (Kabalai) Wilayah  Sungai  Sulawesi  I,  Djidon  Watania  dalam  laporannya menegaskan lagi latar belakang pembangunan  Bendungan Kuwil-Kawangkoan, yaitu karena alasan kebutuhan air baku dan energi listrik  di  Kota  Manado,  Bitung,  dan  sekitarnya  terus  meningkat  dari  tahun  ke  tahun.

“Sedangkan untuk  kebutuhan  listriknya  masih  mengandalkan  PLTA  Tonsea  lama,  yakni  Tanggari  I  dan Tanggari II yang sangat bergantung dari besarnya debit Sungai Tondano,” kata Watania seperti dilansir dari  pu.go.id.

Bendungan  Kuwil -Kawangkoan  memiliki  daya  tampung yang mencapai  23,37  juta  meter  kubik.

Tidak Hanya Waruga, Tapi juga Tempat

Awal Agustus lalu, Djidon Watania, Kabalai Wilayah Sungai Sulawesi I bersama Marva Ibnu, Kepala SNVT Pembangunan Bendungan BWS Sulawesi I, Lydia A. Karema,  PPK Pembangunan Bendungan BWS Sulawesi I (Kuwil -Kawangkoan), Alif Usman perwakilan PT Nindya Karya dan Fafan dari PT Wijaya Karya bertemu dengan  Bupati Minahasa Utara, Vonnie Aneke Panambunan dan Wakil Bupati Joppi Lengkong beserta jajarannya. Pokok percakapan mereka adalah pelaksanaan proyek yang akan segera dimulai.

“Sudah ada 30 hektar tanah yang telah dibebaskan dan kedepannya jika tidak ada aral melintang proyek pembangun waduk ini akan segera dikerjakan,“ kata Wantania dalam pertemuan itu.

Pada pertemuan tersebut terungkap masalah pembebasan lahan karena sebagian lokasi adalah berada di dalam wilayah hukum adat. Hal tersebut menunjuk pada lahan di mana terdapat puluhan waruga. Bupati Panambunan meminta agar pihak Balai Sungai untuk memperhatikan soal itu. Menurut Bupati, persoalan ini harus diselesaikan secara adat.

“Kami akan membantu pemerintah dengan melibatkan pemerintah desa, tokoh adat  menggelar  ‘Budaya Ator Kampung’ untuk memindahkan makam-makam para leluhur yang kami sebut waruga,” kata Bupati. 

Tapi sebenarnya, keberadaan waruga dan tempat yang tidak boleh dipisahkan dan dialihfungsikan, diatur di dalam RTRW Minahasa Utara tahun 2013-2033 sebagai rencana pengelolaan kawasan cagar budaya. Disebutkan antara lain dalam bentuk, “melestarikan  dan melindungi  kawasan  cagar  budaya  dan  kawasan historis  dari alih fungsi.”

Bentuk pengelolaan lain adalah melestarikan  dan  merevitalisasi  kawasan  waruga,  bangunan  tua, gereja  tua, bangunan bernilai sejarah dan/atau bernilai arsitektur tinggi, serta potensi sosial budaya masyarakat yang memiliki nilai sejarah.

Kawasan cagar budaya yang dimaksud dalam RTRW tersebut adalah kawasan cagar budaya waruga  yang berada  di  Desa  Sawangan,  Kecamatan  Airmadidi  dengan  luas  keseluruhan  diperkirakan 10 hektar dan cagar budaya waruga lainnya yang tersebar diseluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Minahasa Utara.

Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Bupati, yaitu rencana memindahkan waruga dari kawasan aslinya bertolak belakang  dengan apa yang diatur dalam RTRW. Namun, agaknya kebijakan merelokasi waruga-waruga adalah pilihan yang paling praktis diambil oleh pemerintah ketimbang mempertahankan di tempat aslinya.  

Rinto Taroreh, pegiat budaya dan pemimpin Kawasaran Waraney Wuaya yang aktif dalam mengidentifikasi serta menyelamatkan artefak-artefak warisan leluhur Minahasa, berpendapat bahwa, yang disebut situs sebenarnya sudah termasuk lokasi atau tempat waruga itu didirikan. Sebab, menurutnya lokasi yang oleh leluhur namakan Wanua Ure Kina-angko'an itu memiliki nilai sejarah dan budaya yang sama dengan waruga yang ada di dalamnya.

“Ini bukan cuma permasalahan waruga, sebab situs di situ terkait pula dengan tanah atau tempat. Itulah yang disebut dengan kawasan cagar budaya.Kawasan atau tempat berdirinya waruga-waruga itu oleh leluhur menyebutnya dengan nama Wanua Ure  Kina-angko'an,” kata Taroreh kepada KawanuaNews.co Kamis (03/11) sore .

Nama ‘Kina-angko'an’ yang kemudian menjadi Kawangkoan, itu terkait dengan kisah para leluhur dahulu ketika menemukan pemukiman di situ. ‘Kina-angko'an’ menurut Taroreh artinya, jika dieja dalam bahasa Melayu Manado adalah ‘pe tahoba kasana’. Hal itu terkait dengan kisah tentang para leluhur yang mencari hunian baru. Ketika dalam perjalanan menuju ke situ, mereka menyusuri sungai. Mereka kemudian mendaki, dan ketika sampai di atas para leluhur melihat tanah yang rata, lalu mereka memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai pemukiman. Itulah kawasan wale ure Kina-angko'an, tempat waruga-waruga itu berada.

“Tanah itu peninggalan leluhur. Pusaka. Tanah itu lambang abadi persaudaraan. Tanah itu tanda hubungan deng torang p pendahulu. Kelak torang mo jadi bagean dari tanah itu,” ungkap Taroreh.

Taroreh mengatakan lagi, menurut yang dia dengar dari tokoh adat di situ, bahwa di  tahun 1950-an ketika terjadi pergolakan Permesta, puluhan waruga di situ dirusak oleh tentara-tentara pusat. Tahun 1970-an sejumlah waruga dijarah oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Hal serupa terjadi lagi tahun 1990-an.

Waruga-waruga di Kuwil adalah warisan leluhur yang memiliki nilai bagi sejarah dan budaya Minahasa. Seorang peneliti asal Belanda, C.T. Bertling, dalam artikelnya berjudul “De Minahasische ‘Waroega’ en ‘Hockerbestattung’” yang dimuat pada Nederlatuhch-Indie Oud en Nieuw XVI, edisi Juni 1931 menyebutkan waruga-waruga di Kuwil. Dia tertarik dengan bentuk-bentuk motif waruga di Kuwil yang menarik.

Bertling menyebutkan, kata “waruga” berasal dari kata "wa" (singkatan dari kata"wawa") yang berarti ”sempurna, benar” dan kata "roega" (ruga) yang berarti ”dikenakan pakaian”; ”tubuh yang terlarut.” ”Waroega akan menjadi tempat di mana seluruh tubuh menjadi hancur.”Sementara jiwa akan tetap ada, abadi.

Sementara itu reaksi atas rusaknya sejumlah waruga akibat pembangunan bendungan di kawasan itu, ormas Laskar Manguni Indonesia (LMI) Kamis (03/11) siang melaporkan PT Nindya Karya selaku pelaksana proyek pembangunan kepada Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara.

LMI melaporkan  PT Nindya Karya karena diduga telah melakukan tindakan pengrusakan cagar budaya waruga di Desa Kuwil. Tonaas Wangko (ketua) LMI, Hanny Pantouw mengatakan, pihaknya mencurigai ijin Amdal pembangunan waduk tersebut tidak dikaji secara matang. Buktinya adalah rusaknya waruga-waruga di lokasi pembangunan proyek.

Namun berbeda dengan kelompok adat, seperti Waraney Wuaya, LMI justru setuju jika waruga-waruga dipindahkan ke lokasi lain dalam rangka penyelamatan. Rinto Taroreh dari Waraney Wuaya tidak hanya melihat dari sisi waruga saja namun juga kesatuannya dengan tanah atau tempat waruga-waruga itu didirikan awal oleh para leluhur.

“Dengan memindahkan waruga-waruga dari tempat itu, maka sama dengan memutuskan hubungan antara generasi Minahasa sekarang dengan para leluhur dan pula dengan tanah atau sumber kehidupannya. Tanah itu memiliki banyak warisan kearifan leluhur,” tegas Taroreh.

 

 Foto: Rinto Taroreh

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.