Media Sosial dan Ilusi Tubuh yang Indah

21 Agustus 2016 \\ Sains & IPTEK \\ 400 Dibaca

Internet dan media sosial membuat orang-orang dapat menampilkan citra dirinya secara bebas. Budaya ‘selfie’ di era digital membuat orang-orang merekayasa dirinya tanpa batas. Bagaimana media sosial mempengaruhi citra penampilan seseorang?

Rachel Simmons, spesialis pengembangan kepemimpinan dari Smith College di Northampton, Massachusetts, Amerika Serikat menulis di time.com pada 19 Agustus 2016 tentang hubungan antara media sosial dengan pembentukan citra diri seseorang dari sejumlah penelitian. Dia membahas gejala ini sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan bagi anak-anak remaja.

Penulis buku Odd Girl Out dan The Curse of the Good ini menyebutkan, awal tahun ini para psikolog menemukan bukti hubungan antara penggunaan media sosial dengan pembentukan citra tubuh yang mengkhawatirkan. Termasuk di dalamnya soal diet, pengawasan bentuk tubuh, dorongan-dorongan terhadap tubuh yang langsing secara berlebihan, dan objektivikasi tubuh dengan media sosial.

Katanya, media sosial seperti facebook, instagram dan snapchat telah menjadi perangkat yang memungkinkan para remaja untuk mendapatkan pengakuan atas tubuh mereka dengan membandingkannya terhadap tubuh orang lain. Kebanyakan yang menjadi korban adalah mereka yang paling banyak mengunggah foto dan memberi komentar di media sosial.

Sebuah penelitian menemukan bahwa para mahasiswi di perguruan tinggi yang mengunggah foto-foto mereka di media sosial seperti facebook adalah mereka yang menghubungkan ‘harga diri’ mereka dengan penampilan. Menariknya, tulis Rachel, meski para mahasiswi sebenarnya yang lebih bermasalah dengan makanan kaitan dengan tubuh mereka, ketimbang laki-laki, namun baik laki-laki maupun perempuan, keduanya dapat dirusak oleh media sosial.

Berkat berbagai aplikasi gratis, para ‘selfie-holics’ sekarang ini bisa mengubah penampilan tubuh mereka dalam foto-foto setara dengan apa yang bisa dilakukan oleh make upa dan produk-produk kecantikan lainnya. Para remaja dapat menutupi jerawat dan memutihkan gigi hanya dengan menyentuhkah jari mereka di layar gadget untuk menjadi lebih langsing dan lebih menarik.

Semua ini lanjut Rachel, mengakibatkan terjadinya apa yang disebut oleh para peneliti dengan ‘illusion of control’. Contohnya, seseorang sebenarnya dapat membuat tubuhnya menjadi indah dengan sebuah upaya nyata. Namun dengan adanya aplikasi dia dapat membayangkan telah melakukan itu hanya melalui aplikasi untuk menjadi indah dalam foto.  

Foto yang diunggah dan diberi tanda ‘like’ memberikan tingkat pengakuan dan popularitas. Foto-foto yang mereka unggah secara online di medsos, sebenarnya jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan foto-foto orang lain yang mereka lihat. Sebelum era internet foto-foto tentang fashion dan mode biasanya dilihat melalui majalah. Sekarang, foto-foto seperti itu tidak lagi terbatas. Remaja-remaja di era internet ini menghabiskan waktu berjam-jam untuk memandang foto-foto selebritas yang menjual tubuh dan kecantikan.

Jadi apa yang bisa orang tua lakukan? Menurut Rachel, orang tua perlu menanyakan pendapat anak remajanya tentang cara orang memodifikasi diri mereka sendiri secara online; mengapa orang melakukannya? Apa yang mereka peroleh, dan dari siapa? Tidak ada salahnya untuk memberitahukan kepada anak remaja, bahwa Anda sebagai orang tua peduli kepada mereka lebih dari sekadar penampilan. Ketika mereka sedang melihat wajah mereka di layar cermin, meski klise tapi baik, ungkapan, "Aku mencintaimu sebagaimana adanya kamu," mungkin semakin penting dan tepat.

 

Editor: Greenhill G. Weol

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.