Lapangan Terbang Mapanget, Dari Nama Wanua ke nama Pahlawan

16 Agustus 2016 \\ Sejarah-Budaya \\ 1481 Dibaca

Lapangan terbang Mapanget sekarang lebih dikenal dengan nama Bandar Udara Internasional Samratulangi. Beberapa waktu lalu, pihak pengelola PT. Angkasa Pura mengusulkan nama branding untuk bandara itu, “Manado International Aiport” (MIA). Namun, kelompok-kelompok masyarakat tertentu di Sulawesi Utara menolak usulan tersebut. Menurut mereka, nama Samratulangi sudah tepat karena itu adalah nama pahlawan dari Minahasa, Dr. GSSJ Samratulangi.  Pihak PT. Angkasa Pura mengatakan, MIA bukan untuk mengganti nama “Samratulangi”, melainkan hanya agar bandara itu semakin terkenal di dunia internasional.

Kapan pertama kali nama “Samratulangi” digunakan untuk bandara itu? Berapa kali ia berganti nama? Bagaimana sejarahnya?

Sejarawan Sulut, Fendy E.W. Parengkuan dalam Sejarah Kota Manado, 1945-1979 (1986) menuliskan, pembangunan lapangan terbang Mapanget sebenarnya sudah dirintis sejak zaman kolonial Belanda. “Usaha untuk membuka lapangan terbang di lokasi ini sudah dirintis di masa kolonial Belanda untuk persinggahan pesawat-pesawat KNILM,” tulisnya.

KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij) adalah maskapai penerbangan Hindia Belanda yang dibentuk pada 16 Juli 1928. KNILM adalah perusahaan swasta Belanda yang melayani penerbangan  di seluruh Hindia Belanda dan ke bagian lain Asia Tenggara.

Tapi, rencana itu belum terlaksana hingga kedatangan Jepang ke Sulawesi Utara. Ketika tentara Jepang masuk ke daerah ini, pasukan terjun payung angkatan udara mereka diterjunkan di lapangan terbang Kalawiran. Di danau Tondano, terdapat pula pangkalan udara amfibi Tasuka. Kedua pangkalan udara itu dibangun oleh pemerintah Belanda untuk menghadapi serangan udara Jepang. Tahun 1942, pangkalan udara Kalawiran jatuh ke tangan tentara Jepang.

Setelah Jepang bercokol di Minahasa, mereka kemudian mengusahakan lagi pembangunan pangkalan udara Mapanget. Pembangunan dimulai pada tahun 1942. Runway yang dibangun kala itu sepanjang 700 meter dan lebar 23 meter. Pangkalan udara itu diberi nama Lapangan Udara Mapanget. Mapanget diambil dari nama wanua tempat pangkalan itu dibangun. Selain di Mapanget, Jepang juga berusaha membangun pangkalan udara di Tawaang, bagian selatan Minahasa.

H.B. Palar dalam Wajah Baru Minahasa (2009) mengisahkan bagaimana orang-orang Minahasa di masa pendudukan Jepang menjadi pekerja paksa (kerja rodi) membangun lapangan terbang Mapanget di Minahasa bagian utara. Seminggu, tiap kampung atau beberapa kampung bergabung menjadi satu rombongan besar mengerjakan proyek perang, yaitu perluasan lapangan udara Kalawiran, kemudian Mapanget.

Menurut Palar, medan yang paling berat adalah Mapanget. “Bukit diratakan dan lekuk-lekuk ditimbun semuanya dengan tenaga manusia memakai peralatan minim seperti gerobak, kalekos dan sebagainya. Manusia harus berjuang mengatasi rawa dan berperang melawan nyamuk serta malaria,” tulis Palar berdasarkan rekamannya dari penurutan orang-orang tua yang merasakan langsung kerja paksa itu.

Setiap pekerja, tulis Palar harus menyiapkan bekalnya sendiri. Ribuan orang ditampung dalam barak-barak bambu, tanpa kamar mandi, tanpa WC kecuali semak belukar di belakang barak-barak. Ketika terjadi pemboman orang harus berlari terbirit-birit. Pada waktu siang dibom oleh sekutu, pada malam ditimbun oleh para giliran.

Selama masa penjajahan, lapangan udara ini menjadi basis pertahanan tentara Jepang menghadapi serangan udara sekutu, selain pangkalan udara Kalawiran. Nama pangkalan udara ini tetap Mapanget. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1944, Kalawiran dialihkan kembali penguasaannya kepada pemerintah Belanda yang kemudian dijadikan Markas Komando Pasukan Cadangan (Reserve Corps). 

Tidak beberapa lama setelah Indonesia menyatakan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pada 2 Maret 1957, beberapa tokoh militer dan intelektual dari wilayah timur Indonesia memproklamasikan Perjuangan Semesta (Permesta). Waktu itu, pangkalan udara Kalawiran hancur akibat serangan udara Permesta. Masa itu, Permesta menguasai lima  Lapangan Udara di bagian timur Indonesia yaitu, Mapanget, Tasuka, Morotai, Jailolo dan Tolotio.

Phill M. Sulu dalam Permesta, Jejak-jejak Pengembaraan (1997) menuliskan, setelah proklamasi di Makassar tahun 1957, Permesta mendapat dukungan luas dan memperoleh beberapa kemenangan gemilang melawan tentara pusat. Namun memasuki tahun kedua gerakan Permesta, yaitu tahun 1958, keadaan perlahan mulai terbalik.

Mei 1958, Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta menyiarkan berita tentang tertembak jatuhnya sebuah pesawat tempur AUREV di Ambon. Pilot pesawat itu bernama Allen Pope, seorang berkebangsaan Amerika. Pada bulan yang sama, di suatu pagi, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) membom lapangan udara Mapanget yang sedang dikuasai Permesta. Sejumlah pesawat tempur AUREV milik Permesta yang diparkir di lapangan udara Mapanget hancur dihajar AURI.

Pada bulan Juni 1958, tulis Sulu, tentara pusat yang terdiri dari RPKAD secepatnya berhasil membebaskan lapangangan terbang Mapanget. Sempat terjadi pertempuran sengit dengan tentara Permesta. Seorang kopral RPKAD bernama Tugiman gugur di medan perang ini. Untuk mengenangnya, selama perang Permesta pangkalan udara Mapanget menyandang nama Tugiman. Setelah pergolakan selesai, namanya kembali seperti semula, Pangkalan Udara Mapanget.

Menurut beberapa sumber, pernah beberapa waktu lamanya lapangan udara ini dikenal dengan sebutan Lapangan Udara A. A. Maramis, yang sekaligus digunakan sebagai nama jalan raya dari Manado ke bandara.

Tentara Nasional Angkatan Udara Indonesia di situsnya tni-au.mil.id menuliskan, ketika dilakukan usaha menumpas pemberontakan Permesta, TNI melaksanakan operasi gabungan dengan nama sandi ”Operasi Merdeka”.  Operasi tersebut bertujuan merebut Sulawesi Utara dengan ibukota Manado dan daerah sekitarnya seperti Gorontalo, Sangir Talaud, Morotai, Jailolo, Palu dan Donggala. Komandan Operasi Gabungan Letkol Rukminto Hendraningrat dengan Wakil I Letkol (L) Hunhols dan Wakil II Mayor Udara Leo Watimena.   

Ketika Lapangan Udara Mapanget berhasil diduduki oleh AURI (PGT),  maka saat itu juga fungsi sebagai Pangkalan penunjang operasi udara beralih di Mapanget dengan Staf Komando berada pula di Mapanget bersama Komandan Kompi PGT Letnan Udara Satu Moestam. 

Pada tahun 1970,  Detasemen Angkatan Udara Manado dirubah statusnya menjadi Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado dengan Keputusan DPRD Dati I Propinsi Sulut nomor: Kepts 17/DPRD-Sul/70 dan Radiogram Ass Ops DKT No.2327/Ops/70. Staf Komando kemudian dipindahkan kembali ke Mapanget dengan menggunakan bangunan tua peninggalan Belanda (Kantin Garuda) sebagai sarana perkantoran. Selain Mako Lanud Sam Ratulangi di Mapanget, masih terdapat aset Lanud Sam Ratulangi di Kalawiran, Tasuka, Gorontalo yang dulunya direbut dari Permesta. Sejak saat itulah nama Pangkalan Udara Mapanget berubah menjadi Pangkalan Udara Samratulangi.

Sejak tahun 1970 itu, nama pangkalan udara ini popluer disebut Bandara Samratulangi. Majalah Tempo edisi Vol V tahun 1977 misalnya, memberitakan tentang kedatangan Laksamana Sudomo dan Menpan Sumarlin ke Sulawesi Utara untuk bertemu dengan Gubernur Sulawesi Utara masa itu, H.V. Worang. Pesawat yang mereka tumpangi, oleh Tempo menyebutnya mendarat di lapangan terbang Sam Ratulangi, Mapanget.

Pangkalan Udara Mapanget atau Bandara Samratulangi beberapa kali direnovasi dan ditingkatkan kapasitas serta statusnya. Bulletin Djembatan Kawanua dalam beritanya di tahun 1969 menyebutkan, biaya untuk meningkatkan lapangan terbang Mapanget sebesar 4 juta rupiah. Oemaroedin N. Mokoagow dalam, Sulawesi Utara di Arena Pembangunan (1980) menyebutkan bahwa pada selang Pelita 1, terdapat empat pelabuhan udarayang dibangun, salah satunya Pelabuhan Udara Sam Ratulangi di Mapanget.  

Sebelum disebut “Bandar Udara” penulisan dan penyebutannya kadang-kadang ‘lapangan terbang’ dan juga ‘lapangan udara’ atau ‘pangkalan udara’.  Agaknya, penyebutan ‘lapangan udara’, itu sebutan resmi sebutan oleh AURI, yang biasa disingkat “Lanud”. 

Namun sampai tahun 1980-an masih sering terdengar orang-orang Minahasa atau sekitarnya menyebut nama “Mapanget” untuk menunjuk pada Bandara Samratulangi yang sebenarnya sudah resmi digunakan sejak tahun 1970-an. Misalnya mereka mengatakan begini, “Mo pigi ba jemput sudara dari Jakarta di Mapanget”.

Ingatan masyarakat Sulawesi Utara dengan nama ‘lapangan terbang” atau “lapangan udara  Mapanget” setidaknya diabadikan pada nama trayek angkutan dalam kota (angkot) jurusan “Pall II-Lapangan”. Orang-orang yang akan ke Bandara Samratulangi tapi tidak menumpang blue bird atau dian taxi, dari terminal Pall II ke bandara mereka akan menumpang mikro jurusan Lapangan.  

 

 

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.