Lampion Terbang di Atas Tugu Perdamaian

28 Agustus 2016 \\ Travel & Pariwisata \\ 375 Dibaca

Kawangkoan, Kawanuanews.co - Udara dingin di malam itu, tak menyurutkan niat warga berkunjung ke salah satu obyek wisata andalan masyarakat Sulawesi Utara, Bukit Kasih Kanonang, Sabtu (27/08) akhir pekan lalu. Uap air panas yang khas di tempat itu membentuk kabut membuat malam itu menjadi lebih berkesan. Anak-anak penari kawasaran dengan kostum merahnya sedang bersiap-siap untuk beraksi. Para penjaja lampion menyapa warga yang berkunjung. Ini malam ‘Pesta 1000 Lampion Terbang’ di Bukit Kasih.

Acara “Pesta 1000 Lampion Terbang” digelar oleh Pemerintah Kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa bersama Badan Pengelola Bukit Kasih Kanonang Provinsi Sulawesi Utara. Ini digelar masih dalam suasana HUT RI ke-71. Tujuan lain pegelaran acara ini, menurut Camat Kawangkoan Barat Johnny Tendean seperti yang dikatakannya kepada wartawan juga untuk mendukung program pariwisata pemerintah provinsi Sulawesi Utara dan pemerintah Kabupaten Minahasa.

Atraksi tarian kawasaran murid-murid SD Kayuuwi menyambut tamu-tamu yang hadir. Sekaligus sebagai atraksi pembuka acara “Pesta 1000 Lampion Terbang” malam itu. Lalu setelah itu menyusul alunan musik etnik kolintang. Para pengunjung mendapat suguhan yang lumayan menarik. Seperti biasanya, laporan dan sambutan pemerintah kecamatan dan kabupaten mendahului semua rangkaian kegiatan.

"Lampion terbang kami pilih lantaraan sangat jarang terdengar. Ini dimaksudkan agar upaya dapat menarik masyarakat datang ke Bukit Kasih. Agar lebih dikenal luas lagi," ujar Johnny Tendean, Camat Kawangkoan Barat dalam laporannya.

Mengapa dipilih tempatnya di Bukit Kasih Kanonang? Menurut Bupati Minahasa, Jantje Wowiling Sajow dalam sambutannya membuka acara itu, ini karena Bukit Kasih adalah objek wisata yang telah dikenal luas. Katanya lagi, pemerintah provinsi sedang berencana untuk melakukan revitalisasi kawasan itu.

"Tempat ini akan menjadi destinasi penting untuk mewartakan kasih kepada semua orang. Diharapkan masyarakat bisa menerima atau menyambut baik setiap tamu yang datang, dan saya gembira karena bukit kasih ada di tengah rakyat Minahasa," ujarnya.

Setelah semua prosesi itu selesai, acara yang ditunggu pengunjung, pelepasan lampion pun dimulai. Bupati, para camat serta wakil dari Dinas Pariwisata Sulut mendapat giliran pertama untuk melepaskan lampion. Pengunjung yang hadir dengan antusias mengikutinya. Maka, lampion-lampion pun berterbangan ke langit di atas Bukit Kasih Kanonang. Malam pun menjadi semarak mengalahkan udara dingin.

“Pesta 1000 Lampion Terbang” tentu hanyalah nama kegiatan. Tidak sebanyak itu lampion yang diterbangkan atau berhasil mengudara. Meski begitu, setidaknya pengunjung tampak menikmati dengan gembira kegiatan ini. Terlebih warga Desa Kanonang Dua yang sedang bergembira karena baru saja berhasil meraih juara 1 tingkat Nasional Lomba Desa se-Indonesia.

Bryant Pelleng, seorang blogger yang ikut hadir dan meliput acara ini, di blognya catatanbryant.com menuliskan beberapa catatan evaluasi. Antara lain dia menulis tentang nama acara “Pesta 1000 Lampion Terbang” yang menurut dia sendiri itu terlalu berlebihan.

“Banyak yang gagal menerbangkan Lampion. Praktis jargon ‘1000 Lampion’ menurut saya terlalu 'wow' dengan jumlah lampion yang terbang hanya sekitar 100-200 lampion,’ tulis Bryant.

Ada Monumen Perdamaian di Bukit Kasih

Pengunjung yang berwisata ke Bukit Kasih Kanonang malam itu juga disuguhkan dengan gambar-gambar yang menampilkan para pemimpin agama dengan gambar latar rumah ibadah masing-masing. Ada gambar pendeta, imam atau ustad, bikkhu, pandita dan pastor. Di bagian puncak Bukit Kasih ini bahkan sejak dibangun pertama kali juga terdapat miniatur rumah-rumah ibadah masing-masing agama. Pada sebuah tebing yang dapat dilihat secara mencolok dari bawah di siang hari terdapat relief wajah Toar dan Lumimuut sebagai simbol dari leluhur orang-orang Minahasa.

Tapi, ada satu pemandangan yang mencolok di tengah kawasan ini. Monumen itu dinamakan Tugu Perdamaian. Kawasan Bukit Kasih dan Tugu Perdamaian ini dibangun pada masa gubernur A.J. Sondakh yang berasal dari Kanonang.

Sebelum kawasan ini direnovasi menjadi Bukit Kasih untuk obyek wisata rohani, dalam tuturan yang diwariskan dari tua-tua Minahasa bahwa di tempat itulah leluhur orang Minahasa menghabiskan masa akhir hidupnya. Pas di puncak bukit itu terdapat sebuah batu yang menurut cerita itulah batu Toar dan Lumimuut. Sekira 1,2 km dari Bukit Kasih terdapat Watu Pinawetengan, sebuah batu besar yang dipercaya sebagai tempat para pemimpin Minahasa tempo dulu bermusyawarah menyelesaikan konflik antar kelompok di masa itu.

Namun sejak Bukit Kasih dan Tugu Perdamaian dibangun dan menjadi populer, kisah Toar-Lumimuut seolah tenggelam. Sekarang ini yang menonjol justru adalah nama ‘Bukit Kasih’ yang identik dengan agama Kristen. Sementara miniatur rumah-rumah ibadah, Tugu Perdamaian dan gambar-gambar pemimpin agama yang kini menjadi ikon wisata rohani di sana, semua itu berhubungan dengan situasi Indonesia dan Sulawesi Utara khususnya pada akhir tahun 1990-an.

Ceritanya dimulai ketika pada tahun 1999 pecah kerusuhan sosial yang kemudian berhasil didesain menjadi ‘perang antar agama’, Kristen dan Islam di Maluku. Menyusul kemudian Poso di Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara pas berada di tengah dua daerah yang sedang rusuh waktu itu. Akibat kerusuhan itu, ribuan pengungsi dari Maluku membanjiri Kota Manado dan Kota Bitung. Isu bahwa kerusuhan akan meluas hingga ke Sulut membuat masyarakat menjadi kuatir. Pemerintah dan kelompok-kelompok non-pemerintah membuat langkah-langkah antisipasi.

Di masa itu, beberapa wartawan dan intelektual lintas agama menggagas pembentukan Jaringan Kerja Kasih (Jajak). Sejak tahun 1969, oleh gubernur masa itu H.V. Worang telah berinisiatif mendirikan Badan Kerjasama Antar Umat Beragama (BKSAUA). Pemerintah bersama dua lembaga ini kemudian mendeklarasikan Tahun Kasih dan sekaligus meresmikan Bukit Kasih pada tahun 2002. Gereja terbesar di Sulut, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Gereja Katolik dan NU serta Muhamadiyah mendukung langkah pemerintah ini.

Seorang tokoh muda NU yang hadir pada waktu peresmian dan ikut membubuhkan tanda tangan pada prasasti Bukit Kasih adalah Munawar Fuad Noeh. Ketika itu ia menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan Perdamaian Pimpinan Pusat GP Anshor NU.

Pada bukunya Awakening the Giant : Membangunkan Negeri Raksasa Yang Tertidur (2009), Fuad menulis keterlibatan Richard Gozney, Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia waktu itu dalam upaya-upaya menciptakan perdamaian di Indonesia termasuk Sulawesi Utara di tengah teror dan kerusuhan di beberapa daerah.

“Yang menarik, pada kesempatan itu kami bersama-sama dengan JAJAK (Jalinan Kerja Kasih), sebuah LSM lintas agama di Sulawesi Utara dan pemda setempat membangun Tugu Perdamaian di Bukit Kasih,” tulis Fuad.

Gozney, Menteri Dalam Negeri masa itu, Hari Sabarno dan Gubernur Sondakh bersama-sama membubuhkan tanda tangan pada prasasti peresmian Bukit Kasih sebagai kawasan wisata religi tahun 2002 itu.

Setahun kemudian, tepatnya bulan Februari 2003, berdirilah Tugu Perdamaian di Bukit Kasih. Gubernur Sondakh sendirilah yang meresmikan monumen tersebut. Ketika sang gubernur meninggal pada Maret 2007, jenasahnya juga dimakamkan di kawasan itu. Seolah ia mau tidur panjang dalam kepuasan atas apa yang telah dia buat semasa hidup. (Redaksi Kawanuanews.co)

Komentar
Leave a reply.