“Kami Sudah Lelah, Maka Kami Berhenti ke Gereja”

27 September 2016 \\ Laporan Khusus \\ 1501 Dibaca

Laporan Denni Pinontoan

Gereja menolak kaum LGBT. Khotbah-khotbah di gereja menyakitkan bagi kaum homoseksual ini. Gereja dinilai seperti tak lagi memiliki kasih

KawanuaNews.co - Coco, seorang LGBT, punya penilaian sinis terhadap gereja, dalam hal ini GMIM gereja terbesar di Sulut itu. Dia menyayangkan sikap penolakan para petinggi GMIM terhadap LGBT. 

“GMIM mengalami kemunduran dalam perkembangannya. Kenapa? Seharusnya GMIM sebagai lembaga gereja terbesar di Indonesia memfasilitasi kebutuhan masyarakat gereja dengan cara merangkul masyarakat gereja untuk bersama samamenunjukan arti kasih yang dititipkam Yesus,” kata Coco.

Coco berharap GMIM memahami lebih jauh lagi masyarakatnya. Melihat apa yang menjadi kegelisahan masyarakat dan warga GMIM. Coco mengingatkan, bahwa pada nama GMIM ada kata “Minahasa”, yang menurut dia karakteristik orang Minahasa adalah “baku-baku bantu” dan “baku-baku sayang.” Dia mempertanyakan nilai-nilai itu di dalam GMIM.

“Apakah GMIM sengaja lupa akan nilai itu ataukah memang sengaja melupakan hal tersebut? Kenapa GMIM saat ini lebih memihak kepada para kaum elit? Kenapa GMIM melupakan hak dari kaum papa? Untuk siapa salib yang diletakkan diatas kantor Sinode GMIM itu? Apakah hanya utk eksistensi atau mamang benar-benar gerakan GMIM adalah gerakan untuk minoritas dari berbagai lapisan?” tanya Coco.

Ditolak Gereja

Coco punya cerita menyakitkan dari pengalamannya beribadah di  gereja.

Pada suatu waktu, dia dan beberapa temannya LGBT datang beribadah di sebuah gereja. Niatnya untuk beribadah sebagai orang Kristen. Maka merekapun mencari gereja yang ramah LGBT. Mereka hadir dalam sebuah kebaktian khusus. 

Sejak memasuki gedung gereja, mereka sudah merasa tidak nyaman. Umat yang sudah lebih dulu berada di dalam gereja memandangi mereka dengan sinis. Ibadah pun dimulai. Menyanyi, berdoa dan membaca alkitab.

Saat pendeta berkhotbah, awalnya mereka merasa sudah menemukan gereja yang mereka cari. Khotbah pendeta enak didengar dan mereka rasa  sangat menguatkan untuk kebutuhan spiritual. Tetapi, itu ternyata cuma di bagian-bagian awal khotbah sang pendeta.

“Di tengah khotbah pendeta memandang kami yang duduk saling berdekatan.  Nah, khotbah pun segera berubah. Isi khotbah sang pendeta perlahan  mulai menyimpang dan mengarah mendiskreditkan serta menstigma LGBT,” kata Coco.

Seperti lazimnya,  kisah Sodom dan Gomora jadi senjata menyerang mereka LGBT. Pendeta, dalam khotbanya menuduh mereka sebagai orang-orang berdosa.

“Serentak kami tertunduk diam dan saling bertatap muka satu dengan yang lainnya. Terjadi diskusi antar Kami. ‘Kok khotbahnya jadi diskriminasi, ya?’" kisah Coco.

Karena situasi yang menekan tersebut, Coco dan kawan-kawanya mengambil keputusan untuk segera meninggalkan gedung gereja itu.

Menurut Coco, sebelum dan sesudah peristiwa itu, mereka beberapa kali mencoba untuk mencari gereja yang ramah LGBT untuk  menguatkan rohani mereka pada setiap hari Minggu. Tapi sudah banyak gereja yang mereka datangi untuk  hingga kini mereka belum dapat menemukan gereja yang ramah terhadap mereka LGBT.

Pernah, ada sebuah gereja melalui pendeta di situ menawari mereka pendampingan untuk, kata sang pendeta agar mereka dapat sembuh dan bertobat.

“Kata pendeta, agar kami boleh kembali dituntun ke jalan yang benar,” kata Coco.

Sebelum isu LGBT kembali ramai dibicarakan sebagai respon atas legalisasi pernikahan sejenis oleh Mahkamah Agung Amerika, GMIM secara institusi sudah punya sikap menolak LGBT. Pada tahun 2013, GMIM melalui Bidang Ajaran, Pembinaan dan Pengembalaan (APP) mengeluarkan buku kode etik pendeta GMIM. Buku itu memang berisi mengenai hal-hal yang menyangkut etika dan moralitas yang harus diperhatikan oleh para pendeta GMIM.

Pada sebuah pasal disinggung soal larangan bagi pendeta menjadi gay, waria atau homo. Wakil Ketua Bidang APP BPMS GMIM yang mengurus penerbitan waktu itu adalah Pdt. Dr. H.W.B. Sumakul. Kini, Sumakul adalah Ketua BPMS GMIM periode 2014-2018.

Tidak ada laporan sejauh mana buku kode etik itu efektif bagi para pendeta GMIM. Seperti juga sulit menyebutkan bahwa di kalangan pendeta GMIM tidak ada yang memiliki orientasi seksual lesbian, gay dan biseksual.

Pada sekitar bulan April dan Mei tahun 2016 beredar dokumen konsep Pengakuan Iman GMIM. Salah satu pasalnya diberi judul “Allah menjadikan manusia: laki-laki dan perempuan.”  Di dalamnya antara lain memuat tentang relasi antara laki-laki dan perempuan, dan dasar pernikahan yang benar dan sah menurut konsep perumus. Menurut bagian ini, pernikahan yang sah dan benar terjadi antara laki-laki dan perempuan dan berlangung seumur hidup.

“Oleh karena itu kami menolak poligami dan pernikahan pasangan yang berjenis kelamin yang sama,” demikian bunyi bagian pada pasal tersebut.

Pada sebuah kesempatan di Manado, seorang pegiat LGBT mengatakan, rumusan itu menandakan para perumusnya tidak mampu membedakan antara jenis kelamin, orientasi seksual dan perilaku seksual.

“Ini persoalan penting bagi gereja-gereja kita dan masyarakat pada umumnya. Masih banyak orang sulit membedakan antara apa yang disebut jenis kelamin, orientasi seksual dan perilaku seksual. Mereka tahu, semua itu sama,” katanya.

Draft dokumen pengakuan iman itu telah ditetapkan pada Sidang Majelis Sinode Istimewa GMIM pada 17 sampai 18 Mei di Wale Ne Tou, Tondano, Minahasa. 

Sikap penolakan BPMS GMIM terhadap LGBT malah didesain sedemikian rupa sehingga terkesan ilmiah. Pada akhir kegiatan yang mereka sebut “seminar biblicomedic  sexology” 15 Juli lalu,  para peserta, BPMS dan pembicara lakukan foto bersama yang bagian belakangnya dibentangi spanduk berukuran besar. Spanduk itu bertuliskan  penolakan GMIM terhadap surat pernyataan pastoral PGI tersebut.

Pembicara pada seminar ini adalah Andik Wijaya seorang yang menyebut diri ahli medical sexologist. Ia pendiri YADA Institute, sebuah lembaga yang memberi perhatian pada hubungan suami dan istri serta seksualitas yang berdasarkan pada sudut pandang alkitab dan rumusan teologis Kristen. Latar belakang keilmuan Andik adalah kedokteran, namun kemudian menyebut diri juga sebagai penginji dan pengajar. Pada situs yadainstitute.org disebutkan, bahwa Andik terpanggil dalam pelayanan Kristen pertama kali tahun 1986.

Ia menggambungkan kompetensi ilmu kedokteran dengan pemahaman keagamaannya menjadi semacam ilmu baru yang dia namakan biblicomedic  sexology. Andik dan Yada Institute yang dia dirikan sangat menentang homoseksualitas. Pada yadainstitute.org disebutkan, bahwa Yada Institute mengakui sepenuhnya, selain  Pengakuan Iman Rasuli juga The Colorado Statement on Biblical Sexual Morality yang dirumuskan oleh Council on Biblical Sexual Ethics. Dewan ini terdiri dari sembilan ahli alkitab Kristen Protestan dan Katolik di Amerika yang memberi perhatian khusus pada masalah seksualitas.

The Colorado Statement on Biblical Sexual Morality menolak dengan tegas homoseksual. “Kami menyangkal klaim bahwa ilmu pengetahuan dapat membenarkan moralitas perilaku homoseksual. Kami menolak gagasan bahwa atraksi homoseksual adalah karunia dari Allah (Yakobus 1:13). Kami menolak gagasan bahwa hubungan homoseksual adalah sama sahnya dengan hubungan heteroseksual,” demikian salah satu pernyataan dalam The Colorado Statement on Biblical Sexual Morality sebagaimana dikutip dari focusonthefamily.com

Andik dan Yada Institute intens melakukan seminar bertemakan seksualitas dari sudut pandang alkitab dan iman Kristen yang dianutnya di beberapa gereja dan komunitas Kristen se-Indonesia. Ia memiliki relasi dengan GMIM. Sejak kita-kira tahun 2014, beberapa warga GMIM mulai mengikuti seminar biblicomedic  sexology di Bandung. Ketua Worship Offering and Witness (WOW) GMIM di Kabupaten Minahasa dan Ketua Tim Penggerak PKK di kabupaten itu, Olga Singkoh bersama sejumlah pendeta dan anggota PPK mengikuti seminar tersebut. WOW GMIM bergerak di bidang pelayanan doa dan penginjilan.

November tahun 2015, kembali lagi Olga Singko, yang juga istri bupati Minahasa itu mengikuti seminar biblicomedic  sexology pada tingkatan yang berbeda. Turut mengikuti seminar tersebut, Ketua BPMS GMIM, HWB Sumakul, Wakil Ketua BPMS, Hein Arina serta beberapa petinggi GMIM lainnya. Hubungan tersebut berlanjut hingga kini.  Beberapa seminar ini bahkan dilaksanakan di kantor sinode GMIM di Tomohon.

Tentu tidak semua warga dan pendeta GMIM punya sikap yang sama dengan pemimpin institusinya. Para pendeta perempuan GMIM yang tergabung dalam Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati) banyak yang memiliki pandangan dan wawasan yang terbuka serta ramah terhadap LGBT. Bahkan pada beberapa kegiatan Peruati, isu LGBT sudah menjadi pembahasan yang intens. Namun, kelompok yang memiliki cara pandang progresif ini minoritas di Sulut.

Pada acara pembukaan Kongres Nasional IV Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (PERUATI) 25-30 Agustus 2015 di Tondano, Minahasa, Ketua Badan Pengurus Nasional (BPN) Peruati, Ruth Ketsia Wangkai dalam laporannya menyatakan keberpihakan Peruati terhadap LGBT. Ketua BPN Peruati sekarang, Ruth Ketsia Wangkai adalah pendeta GMIM dan dosen di Fakultas Teologi UKIT.

Debat Teologis tentang LGBT

Sikap menolak LGBT sebenarnya bukan hanya di GMIM. Sikap ini ternyata umum pada gereja-gereja lain se-Indonesia. Ini terlihat ketika gereja-gereja dan warga gereja bereaksi terhadap Surat Pernyataan Pastoral tentang LGBT yang dikeluarkan Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI). Surat pernyataan pastoral ini sebenarnya sudah dikeluarkan pada bulan Mei 2016 namun nanti ramai didiskusikan beberapa bulan kemudian. PGI memiliki pandangan yang sangat positif terhadap LGBT. Sebuah cara pandang yang sangat berbeda dengan gereja-gereja anggotanya dan gereja-gereja lain se-Indonesia.

Jeirry Sumampouw, humas PGI mengatakan, surat pernyataan pastoral tersebut sebenarnya pertama-tama diperuntukkan bagi gerej-gereja anggota PGI untuk menjadi bahan kajian lanjutan dengan harapan mereka dapat mengirim respon balik.

“Namun entah bagaimana surat ini beredar di media sosial dan menjadi percakapan umum. Sampai kini, belum banyak gereja yang memberi respon atas hasil kajian mereka. Justru yang ada diskusi-diskusi lepas di media sosial. Bahkan, ada individu yang bukan dari gereja anggota PGI menuliskan surat berisi tanggapannya langsung kepada MPH-PGI,” kata Jeirry pada  Seminar dan Dialog Terbuka mengenai Keragaman Gender dan Sekualitas di Manado yang dilaksanakan oleh beberapa komunitas LGBT dan mitranya di salah satu jemaat GMIM di Manado, 14 Juli lalu.

Surat Pernyataan Pastoral PGI tersebut berisi beberapa pemahaman teologis mengenai manusia dan seksualitas dengan mempertimbangkan temuan-temuan ilmu pengetahuan terkait dengan hal ini. Namun Andik Wijaya, pakar biblicomedic  sexology itu membantah semua pandangan PGI tersebut. 

“Manusia adalah gambar dan citra Allah yang sempurna. Sebagai citra Allah yang sempurna, manusia memiliki harkat dan martabat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi,” tulis PGI dalam surat pernyataan pastoral tersebut

Andik menanggapinya dengan mengutip ayat pada Kejadian 1: 27 yang dalam tafsirannya bahwa ayat tersebut menegaskan tentang orientasi seksual yang normal adalah heteroseksual

“Laki-laki dan perempuan sebagaimana dinyatakan dalam Firman Tuhan diatas, jelas memiliki orientasi seksual yang normal, yaitu heteroseksual,” tulis Andik dalam surat tanggapannya tertanggal 21 Juni 2016.

PGI menyebutkan, Allah menciptakan manusia, makhluk dan segala ciptaan yang beranekaragam dan berbeda-beda satu sama lain. Termasuk yang disebutkan adalah keragaman orientasi seksual.

“Keanekaragaman ini adalah sebuah realitas yang Allah berikan kepada kita, yang seharusnya bisa kita terima dengan sikap positif dan realistis,” tulis PGI.  

“Pernyataan ini salah, baik secara biblical maupun medical. Dari pandangan biblical, Firman Tuhan di atas jelas menyatakan bahwa Allah hanya menciptakan Laki-laki dan Perempuan dengan orientasi seksual hetero,” bantah Andik. 

Dia juga menyebutkan, dalam fakta medis modern, orientasi seksual seseorang tidak ditentukan oleh faktor genetik, fungsi syaraf, maupun fungsi hormonal, tetapi dibentuk melalui dinamika psiko-sosio-spiritualnya sejak awal tumbuh kembangnya sebagai manusia.

PGI dalam pandangannya menyebutkan,  bersikap positif dan realistis dalam keanekaragaman berarti harus saling menerima, saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain. Bersikap positif dan realistis terhadap keanekaragaman yang Allah berikan berarti berupaya memahami dan menerima dalam kasih segala perbedaan yang ada.

“Bersikap positif dan realistis terhadap kenekaragaman berarti kita melawan segala bentuk kebencian, ketidakadilan, diskriminasi, eksploitasi dan penindasan terhadap sesama manusia, segala makhluk dan segenap ciptaan Allah. Sebaliknya kita berupaya mendialogkan segala perbedaan itu tanpa prasangka negatif. Bersikap positif dan realistis berarti kita menjaga dan memelihara persekutuan manusia yang beranekaragam ini agar mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, bagi segala makhluk dan bagi bumi ini,” tegas PGI.

Andik, lagi-lagi menolak pemahaman PGI tersebut. Dengan tegas dia mengatakan, pemahaman tersebut jelas bukan sikap yang positif dan jelas bukan sikap yang realistis, karena dasar yang digunakan salah. Menurut dia, sikap realistis yang benar adalah menerima kebenaran bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki orientasi seksual hetero.

“Sikap positif yang benar adalah memiliki belas kasihan untuk menolong mereka yang berada dalam pergumulan LGBT untuk dipulihkan, dan kembali sebagai gambar dan citra Allah, seperti ketika Allah menciptakan manusia pada mulanya, yaitu sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki orientasi seksual hetero,” tulis Andik. 

Titik tolak PGI adalah, “Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang merupakan ciptaan Allah yang sangat dikasihi-Nya.” 

“Titik tolak ini salah, karena Allah tidak pernah menciptakan manusia sebagai LGBT. Kasih Allah pada manusia berdosa tidak pernah membenarkan perbuatan dosanya,” sanggah Andik.

Berikut, PGI memahami bahwa LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu. “LGBT bukan produk kebudayan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita dan secara sosio-antropologis LGBT ini sudah sejak dulu diakomodasikan dalam budaya beberapa suku di dalam masyarakat kita,” tulis PGI.

“Titik tolak ini salah, sebab untuk menilai orientasi seksual manusia yang benar titik tolak nya tidak boleh dimulai dari masa lalu saat manusia sudah jatuh dalam dosa. Titik tolak yang benar adalah sebelum manusia jatuh kedalam dosa, yaitu saat pertama kali Allah menciptakan manusia sebagai Laki-laki dan perempuan dengan orientasi seksual hetero,” bantah Andik.

Stephen Suleeman, seorang pendeta dan dosen di STT Jakarta yang intens berbicara dan mengadvokasi LGBT dalam sebuah artikelnya berjudul Memahami Homoseksualitas Lewat Alkitab menuliskan, alkitab seringkali keliru dipahami ketika membaca dengan cara-cara berpikir orang modern dan mengabaikan situasi, kondisi, latar belakang budaya, pergumulan para penulis Alkitab, dll. dengan perso­alan-persoalan yang hidup pada masanya. Menurutnya, isu-isu LGBTIQ, misalnya, tidak menjadi perhatian utama para penulis Alkitab. Para nabi di Perjanjian Lama dan Yesus sendiri hampir-hampir tidak pernah berbicara tentang homoseksualitas sebagai dosa.

“Yang juga menarik dan perlu dicatat ialah bahwa Alkitab hampir-hampir membisu terhadap orientasi seksual lesbian. Tampaknya hal itu tidak menjadi perhatian masyarakat pada zaman penulisan Alkitab,” tulisnya.

“Sebaliknya, ada sejumlah teks Alkitab yang kemungkinan merujuk kepada hubungan homoseksual atau lesbian seperti yang kita kenal sekarang, seperti yang kita temukan dalam ungkapan cinta kasih Daud kepada Yonatan dalam 2 Sam. 1:26; ‘Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan’,” tambahnya.

Suleeman menegaskan, hal yang seringkali dilupakan orang dalam memahami isu-isu LGBTIQ lewat penggalian teks-teks Alkitab adalah tekanan yang sangat kuat dalam oleh Alkitab terhadap masalah-masalah keadilan, damai sejahtera, kese­diaan untuk mengakui bahwa diri sendiri tidak lebih baik daripada orang lain di hadapan Allah. Dia mengutip ayat dalam Mikha 6:8 yang mengatakan, “…apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

“Orang-orang yang mengutuk homoseksualitas seringkali justru gagal dalam melaksanakan perintah ini. Mereka tidak dapat memahami bahwa preferensi dan orientasi seksual seseorang bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah diubah, seperti halnya bila seorang heteroseksual dipaksa untuk berubah menjadi homoseksual,” tegasnya lagi.

Roy, aktivis LGBT di Manado berusaha memahami masalah penolakan gereja tersebut secara objektif. Menurut dia, penolakan gereja terhadap LGBT terutama karena pengetahuan mereka mengenai Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body (SOGIEB) dan hak asasi manusia (HAM) tidak memadai.

Persoalan lain, menurut Roy adalah heteronormativisme yang kuat dianut oleh masyarakat dan warga gereja. Masalah ini ditambah dengan penafsiran alkitab yang menyudutkan LGBT.

“Warga gereja atau masyarakat pada umumnya  adalah manusia juga yang punya kasih. Saat ini yang kita perangi adalah ketidak tahuan masyarakat tentang SOGIEB dngan HAM, heteronormativisme dan penafsiran kitab suci yang bias,” kata Roy. 

Roy berpendapat, pekerjaan berat yang harus dilaksanakan oleh pegiat LGBT dan keadilan gender adalah mencerahkan warga gereja dan masyarakat mengenai SOGIEB dan HAM. 

“Agar sedikit demi sedikit membuka cakrawala berpikir yang ramah terhadap LGBT. Namun, juga harus diingat, yang harus kita hadapi bukan cuma jemaat atau masyarakat tetapi juga komunitas kita sendiri,” tandasnya.

“Kami sudah lelah, maka kami berhenti untuk ke Gereja di setiap hari Minggu,” ujar Coco sedih.

 

 

Catatan redaksi: Atas permintaan narasumber demi alasan keamanan, berapa bagian yang sebelumnya sudah dimuat telah dihapus. Kami mohon maaf.

Komentar
Leave a reply.