Gerakan 'Save Waruga' Hebohkan Pusat Keramaian Manado, Harapkan Perhatian Masyarakat dan Pemerintah

07 November 2016 \\ Berita Utama \\ 5705 Dibaca

MANADO, KawanuaNews.co - Puluhan masyarakat adat Minahasa dari berbagai unsur gerakan menggelar kampanye 'Save Waruga' di sepanjang jalan Piere Tendean Boulevard Manado. Aksi ini berlangsung pada Minggu (6/11/2016) pukul 15.00 sampai 17.00 WITA. Kepedulian terhadap situs budaya waruga ini muncul disebabkan terjadinya tindakan pemindahan waruga di Desa Kuwil Kecamatan Kalawat, Minahasa Utara karena adanya proyek pembangunan bendungan DAS Tondano.

Massa aksi kepedulian ini berjalan disepanjang jalan Piere Tendean sambil singgah di depan pusat-pusat perbelanjaan besar. Massa aksi masing-masing membawa sebuah kertas dengan berbagai tulisan pesan. Pesan tersebut antara lain bertuliskan 'Selamatkan Waruga', 'Selamatkan Tanah Adat Minahasa', dan 'Selamatkan Situs Budaya'.

Sempat mengundang perhatian warga, massa aksi yang sebagian menggunakan pakaian adat Minahasa serta pakaian kabasaran ini menjelaskan kepada warga tentang kepedulian terhadap situs budaya dan tanah adat Minahasa. Banyak juga warga yang meminta foto bersama dengan massa aksi berpakaian kabasaran. Tak hanya warga lokal, wisatawan asing yang hendak lewatpun ikut berfoto dengan massa aksi. "Berbeda suku bangsa, tapi kepeduliannya sama" kata Iswan Sual sebagai koordinator aksi.

Menurut Sual, sangat penting untuk melestarikan situs budaya dimasa kini. "Situs budaya adalah penanda waktu dan penanda tempat kejadian luar biasa di masa silam. Bila itu dipindahkan, maka hilanglah fungsingnya sebagai penanda tempat. Maka, kisah sebenarnya di balik penanda itu akan hilang atau terbelokkan" tegasnya.

Terhadap tindakan pemindahan waruga di Desa Kuwil - Kawangkoan, Sual mengatakan bahwa tanah itu adalah tanah adat. "Di Kawangkoan, Waruga itu berdiri di atas tanah yang berstatus kalakeran atau tanah adat" ungkap Sual.

Menurut budayawan Minahasa Denni Pinontoan, ada aturan dari pemerintah terkait pemindahan situs budaya. "Keberadaan waruga dan tempat yang tidak boleh dipisahkan dan dialihfungsikan, diatur di dalam RTRW Minahasa Utara tahun 2013-2033 sebagai rencana pengelolaan kawasan cagar budaya. Disebutkan antara lain dalam bentuk melestarikan dan melindungi kawasan cagar budaya dan kawasan historis dari alih fungsi" ungkap Pinontoan dalam tulisannya berjudul 'Membendung Air, Hanyutkan Kearifan Leluhur'.

Pendapat tersebut diperkuat secara adat oleh pegiat budaya Minahasa Rinto Ch. Taroreh yang menyebutkan bahwa "Ini bukan cuma permasalahan waruga, sebab situs di situ terkait pula dengan tanah atau tempat. Itulah yang disebut dengan kawasan cagar budaya."

Aksi yang berlangsung tertib dan heboh ini kemudian mengharapkan agar pemerintah bersikap bijak dalam mengambil keputusan terkait dengan pembangunan. Jangan sampai pemerintah mengorbankan situs budaya dan tanah adat hanya karena proyek pembangunan yang bisa saja dilakukan di tempat lain. Massa aksi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap situs budaya dijaman ini, karena kehilangan penanda berupa situs budaya adalah sama dengan kehilangan sejarah dan identitas lokal. (Leon)

Komentar
Leave a reply.