Etos Miskin Etik

05 September 2016 \\ Opini \\ 456 Dibaca

Oleh Daniel Kaligis

JAKARTA, belantara beton logam kaca plastik, nyaku pada satu ruang, melantur kaki lepas penat sehari suntuk. Di hadapku jalan sunyi. kompleks ini diportal dari berapa arah. Nun, dari sini, matahari senja menggantung langit jingga bertabur awan jauh di belakang Pakubuwono Signature.

Di bawah menara, di sela tiang-tiang legam abu-abu, area ini kerap ramai. Deru mesin denting logam tak pernah usai. Lalu malam kita hilang. Mimpi membasah jiwa. Bila pagi sunyi tiba, tiga pengamen duduk bermacam gaya di halte seberang Kerinci. Mereka, penembang itu, melantun serak di atas bus, menagih seperti sopan, kadang beringgas menuntut-nuntut diberi harga.

Kota penuh sesak. Penjual buah keliling bersepeda. Gerobak nasi goreng mie rebus didorong ke sisi perempatan. Pemutar lagu-lagu dengan pengeras suara menempel di badan meminta kita mengisi berkas-berkasnya di bekas kemasan bungkus permen. Tukang semir di ujung gang. Pejalan kaki. Tukang pompa. Tukang suap ngobrol harga tilang melambung, mereka menepi di taman-taman kota, mengunyah jajan, menyeruput cairan. Asap sudah tersamar, semua leluasa menghirupnya.

Di sini kita sering perang mulut soal ideology, bahkan, coba buka lembar pengalaman negeri kita yang brantem ideology itu sungguh banyak, kafir-kafiran, haram-haraman, ledek-ledekan, ledak-ledakan, bunuh-bunuhan, begitu seterusnya dan belum banyak diselesaikan oleh negara.

Pernah membayangkan, pernah membaca dan meneliti tidak? Apakah Amerika dan Rusia itu pernah perang secara terbuka, sementara sejauh ini ideology mereka pada semua tingkatan di negeri ini terus diperguncingdebatkan? Mereka punya etos masing-masing, demikian juga kita. Negara kita mengumumkan kepada dunia juga pada anak-anak kecil di sekolah-sekolah tentang negara yang menjunjung kemanusiaan dan hak hidup. Mengapa begitu banyak orang digusur? Mengapa keberagaman diinjak-injak ego etos etik negara diam saja? Lupakan saja?

Bersua kawan di Kebayoran, bercengkrama di bayang fly-over. Kami mencari percetakan murah untuk kepentingan suatu acara di bulan Agustus yang terik. Di sini penjual barang bekas berderet-deret. Stasiun kereta, orang hilir-mudik. Mata beradu pandang, mengumbar iba, siapa mengejar pendapatan? Bangun pagi, bergegas tuju kantor, toko, resto, warung, lapak. Tapi, tempat usaha baru mengangkat rolling-doornya di atas jam sembilan. Janji-janji palsu, waktu-waktu lusuh, yang bangun pagi itu tukang sapu jalan dan mereka yang terbiasa bergegas. Jualan-jualan dijaja para pembual dengan alasan dolar naik harga berlipat-lipat dan inilah realita kaya kita dengan sejumlah argument untuk makan enak pikiran tenang.

Penjual lebih gampang melihat tampang, mereka memilih consumer yang mudah mereka paham dari cara berpakaian dan cara bicara. Kita boleh dapat murah jika lihai menggunakan trik ini. Gaya menawarkan hampir sama, dari pasar pinggiran becek hingga mall-mall megah. “Boleh om, boleh tante, hey boss mari lihat-lihat, cari apa? Sini masuk dulu siapa tau cocok.”

Negara sejumlah masalah. Masih ada pasal-pasal krusial potensial mengancam pemenuhan jaminan perlindungan hak-hak konstitusional warga. Pasal-pasal itu melingkup definisi ancaman keamanan nasional, definisi rahasia intelijen, berikut pelarangannya, definisi pihak lawan, kewenangan khusus: penyadapan, pemeriksaan aliran dana dan penggalian informasi, rekomendasi berkaitan orang dan atau lembaga asing.

Ada waktu boleh menapaki plaza dan hotel, ruang-ruang berhawa buatan, sembari berkaca memandangi wajah kita berbagai ekspresi. Dapatlah tertawa sendiri, bolehlah bermuram dengan sejumput kepedihan tak pernah akan terpuaskan di bawah cakrawala yang sudah kita junjung masing-masing. Politik penghalusan bahasa jelas memenjara cara berpikir di mana etos itu kita tumpahkan di sana. Kerja keras, kerja smart, lalu menikmati. Review, get menu. Di Marche, West Mall – Grand Indonesia, suatu sore. Kita duduk berhadapan. Kawan-kawan mengunggah status, late lunch. Nyaku baru mo smokol.

Tertawa di sini basa-basi, supaya saling senang. Berjam-jam kami ngobrol, hingga pelayan datang membersihkan sisa-sisa add-ons bread, soup of the days, juice, botol-botol air mineral isinya lebih mahal dari bbm.

Miskin tumbuhkan sejumlah soal, seperti bacaan kita saban pagi di koran ibukota. Senggang, korupsi, gadget membujuk cara bertingkah anak-anak diam orang-orang tua ganjen yang lapar perhatian, tipu, bunuh diri.

Masih soal miskin, iseng dan kenekadan: Ahok pasti murka jika tau mesin di pintu masuk koridor busway sering kami tipu. Untuk mengelilingi berbagai lokasi, nyaku dan Evert sering masuk berdempetan sekali gesek lalu duduk aman atau berdiri berdesak di kerumunan orang dalam kendaraan biaya murah itu. Alasan klasik, “Biaya hidup mahal di kota besar.” Namun, kami harus terus berpacu, membagi tiap derap detik berlalu dan jadi sejarah.

Pada ruang yang kusebut di atas tadi, menera kutipan. Etos suatu suku bangsa. Revolution. Reformation. Peradaban vis a vis dengan norma. Budaya berbentur isme-isme. “Etik, komponen inheren segala profesi.” Pada kemiskinan kita bertanya sejumlah soal: Pertama, tentang sistem yang memayungnya. Beretika-kah pemerintah yang menelantarkan rakyat? Kedua, perkara standart minimum pelayanan. Duhai agama-agama juga menggemakan keras-keras soal pelayanan, padahal dengan bengis merampoki umatnya, menodongkan pedang bermata dua, sorga-neraka. Berikut kita sedikit nyerempet issue kepercayaan.

Sejumlah pos rawan korupsi, uang tunai uang transfer diganti kartu-kartu. Tapi, jerit miskin masih meraung-raung seperti sirene. Sudah disebut di atas, kita nyerempet. Kepercayaan keyakinan, sejak ribuan tahun lalu profesi dokter dan pelayan kesehatan diyakini punya standart etis. Ada sumpahnya, sebab pelayanan di bidang ini menyangkut paling tidak dua hal pokok yang dapat kita rangkum seperti ini: mereka dapat menyembuhkan, mereka juga dapat membinasakan (jika tidak dibatasi nilai-nilai etik).

Beretika-kah dokter yang lebih giat jualan menu apotik, namun abai memperhatikan tempat dia bersandiwara di mana pasien-pasien miskin dipinggirkan? Beretika-kah pemimpin-pemimpin negeri yang bekerja keras menghambur anggaran demi beton-beton menutupi area resapan? Padat karya masih diumumkan kerja bakti, rakyat berduyun-duyun di sana menikmati makan minum gratis. Alokasi dana desa bersikukuh memperdayai ketimbang memberi manfaat pelebaran kesempatan kerja tingkat basis.

Cerita dari seberang ramai di media sosial. Status gentayangan, siapa peduli? Hari ini kita memberi komen sejurus solusi tumpul karena tak mungkin dieksekusi.

Lebih sebulan di kota ini, nyaku banyak bertemu dengan kawan-kawan dari wanua. Mereka, perantau tangguh dengan berbagai cerita sukses dengan berbagai wawasan. Inilah yang membuat nyaku merasa sangat-sangat kaya, beroleh banyak kisah mereka, cara mereka berpikir, cara mereka bertindak-tanduk, cara mereka tersenyum dan entah cara mereka marah terpendam. Waktu membuat kita membikin sejumlah kesimpulan sementara.

Jl. Gunung Sahari No. 1. Minggu, 4 September 2016. Sofyan, Evert dan nyaku. Kami diskusi soal hukum, entertainment, jurnalistik, dan tou. Disaji mr. green tea, green tease, cafe latte, hot chocolate, kami bercengkrama tiga jam. Sofyan membincang seluk-beluk perkara hukum yang kian kompleks di masyarakat kita. ia juga membeber beberapa pembelaannya terhadap soal trafficking di Minahasa Selatan dan sejumlah perkara di tanah air. Evert menanyakan sejumlah nama.

Di jalan pulang teringat pertanyaan seorang kawan, “Apa yang dipersiapkan bagi masa depan?” Tanya itu membentur sejumlah perkara. Kisah anak manusia hari ini menjadi show mendulang value oleh mereka yang meramunya menjadi ladang mencari untung. Proposal miskin berhias etos, panjang, melingkar-lingkar bak benang, tali melilit kesemrautan.

Pada 4 Agustus lalu, ada diskusi ada diskusi dengan beberapa kawan, yang kurang lebih sama issue-nya sama dengan apa yang dibahas sehari-hari: kekayaan, kemiskinan, etos, cara pandang, tou dan berbagai teori yang melingkupinya. Freddy, Rivo, nyaku, melintas South Gate, Plaza Indonesia. Di pelatarannya kami memetik gambar, mendrive kamera ke bundaran H.I., lokasi di mana para pendemo kerap meneriaki sistem di negeri ini. Dari titik ini kami menuju Kelapa Gading, bersua Janno, lalu sama-sama menuju Museum National.

Jakarta, menyaji tantangan kesempatan pula ruang di nampan sama, sebagai ibukota negara, di mana harap para tous dari pelosok negeri menggantung asa. Regulasi bertumpuk-tumpuk, di daerah soal ini menjadi macan kertas pemangku kepentingan untuk saling tuduh karena etos beradu etik berbagai pengetahuan. Opini ini tidak tuntas, dan nyaku coba memosisikan diri sebagai rupa-rupa profesi.

Kita kaya huruf, kaya kata, kaya kalimat. Kita miskin edit, miskin etos miskin etis yang dapat direalisaskan. Itu nyaku!

Jakarta, 05 September 2016

_____________

Daniel Kaligis, adalah seorang penulis, 'tou Remboken'

Komentar
Leave a reply.