Cengkeh, ‘Emas Coklat’ Bagi Masyarakat Minahasa

21 Agustus 2016 \\ Sejarah-Budaya \\ 823 Dibaca

Orang-orang Minahasa menjuluki cengkeh dengan sebutan “emas coklat”. “Emas coklat”, karena suatu masa ia pernah memberi berkat yang melimpah bagi masyarakat. Dari nama Willy Lasut, gubernur Sulawesi Utara di akhir tahun 1970-an yang dikenang bersama romantisme hingga ‘cuci muka dan tangan’ dengan bir, cengkeh adalah penanda sejarah, sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat Minahasa.

Tanaman cengkeh, bukanlah asli Minahasa. Ia berasal dari Kepulauan Maluku, gugusan pulau-pulau kecil di lepas pantai sebelah timurnya .

“Adalah pemerintah kolonial Belanda yang mendatangkan tanaman ini ke Minahasa pada awal abad-19, masa dimana kejayaan rempah-rempah Maluku --terutama cengkeh dan pala-- justru mulai meredup,” tulis Andre Gusti Bara, Amato Assegaf, SyarifHidayat dalam Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota (2010).

Pertengahan abad-19, perdagangan cengkeh di Hindia Belanda tidak terlalu menggairahkan. Penyebabanya adalah turunnya secara drastis permintaan cengkeh di pasar internasional.

“Pulau-pulau penghasil cengkeh di Maluku menjadi kehilangan daya tarik. Tahun 1830, setelah Serikat Dagang Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie, VOC) bangkrut, pemerintah Kerajaan Belanda mengambil alih kendali atas seluruh wilayah jajahan nusantara dan mulai menerapkan sistem ‘tanam paksa’ (cultuurstelsel),” tulis Andre, Amato dan Syarif.  

Mereka mengutip Roderick C.Wahr yang mencatat bahwa pada tahun 1850an, kopi adalah  tanaman pertama yang dipaksakan secara massal untuk ditanam dan kemudian dibeli dari petani di Minahasa dengan harga yang sangat murah. Tetapi, roda perekonomian Minahasa yang berbasis cengkeh sebenarnya baru bangkit kembali setelah  kretek mulai diproduksi di Pulau Jawa awal abad-20.

Buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara, sebuah laporan penelitian Direktorat Jenderal Kebudayaan tahun 1978 menuliskan, cengkeh di Minahasa mulai ditanam tahun 1878. Tahun 1940 yang ditanam sudah sebanyak 300 ribu pohon. Harga tahun 1938 f. 25 sepikul. Tahun 1940 turun menjadi 15 sepikul. Di zaman Belanda, sepikul sama dengan kira-kira 60-62,5 kg.

Di zaman kolonial, hasil utama wilayah keresiden Manado – wilayah Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah sekarang – adalah kopra, fuli, kopi dan cengkeh. Kelapa di tanam di hampur semua daerah. Cengkeh merupakan tanaman utama di Kombi dan Sonder.

Tahun 1937, hasil cengkeh di wilayah keresiden Manado untuk diekspor sebanyak 72,877 kg dengan nilai f. 42.921. Tahun 1939 meningkat menjadi 185.305 dengan nilai 105.260.

Andre, Amato dan Syarif mengatakan, masa kebangkitan di pertengahan abad 20  sempat terhenti selama beberapa tahun karena pemberontakan Perjuangan Semesta (Permesta) tahun  1957–1961. Selama periode ini, kebun-kebun cengkeh  terlantar karena para petani bergerilya di kawasan pedalaman.  Akibatnya, pohon-pohon cengkeh tidak terurus. Hama terutama jenis ulat pengebor batang menyerang pohon-pohon cengkeh mereka. 

Willy Lasut dan ‘Cuci Tangan dan Muka’ dengan Bir

Setelah Permesta, orang-orang Minahasa kembali giat menanam pohon-pohon cengkeh. Tahun 1970-an, seperti dicatat Ishak Salim dalam Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, bibit cengkeh dari Pulau Madagaskar di pantai timur Benua Afrika, yang dikenal dengan nama ‘cengkeh Zanzibar’ masuk ke Minahasa dan daerah-daerah lain di Indonesia. Para petani di Minahasa ternyata suka dengan jenis cengkeh itu. 

Frans Welley, salah seorang petani di Sonder, berprakarsa mengawinkan cengkeh Zanzibar tersebut dengan cengkeh Cikotok, lalu menghasilkan satu jenis baru pula yang kemudian dikenal luas dengan nama ‘cengkeh Zanzibar Lengkoan’, mengambil nama kawasan (Lengkoan) dimana kebun cengkeh Welley terletak, tempat dimana dia mulai melakukan percobaan persilangan tersebut dan menanamnya.

Tanggal 21 Juni 1978, seorang perwira TNI asal Minahasa dilantik menjadi gubernur Sulawesi Utara. Namanya Willy Ghayus Alexander Lasut, populer dikenal dengan nama Willy Lasut. Salah satu kebijakannya yang masih dikenang orang-orang Minahasa hingga kini adalah ‘melawan’ pemerintah pusat dalam penetapan harga cengkeh. Harga cengkeh di masa kepemimpinannya mencapai Rp 17.500, harga yang terbilang tinggi waktu itu.

Andre, Amato dan Syarif mengutip pameo di masyarakat Minahasa yang masih diingat hingga sekarang dari masa jaya cengkeh akhir tahun 1970-an itu:  “...pada saat panen raya cengkeh setiap tahun, orang Minahasa naik pesawat ke Jakarta hanya untuk bercukur”; atau “...mereka bahkan memborong ratusan kerat minuman bir hanya untuk cuci-muka”!

Andre Gusti Bara dan Ishak Salim pada tulisan lain mereka di buku Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota menuliskan, masyarakat, khususnya petani cengkeh di Kecamatan Kombi, Sonder, dan sentra cengkeh lainnya, betul-betul menikmati hasil pertanian mereka di masa itu. “Sisa-sisa masa kejayaan itupun masih terlihat sekarang di sana: rumah-rumah penduduk yang berukuran besar atau gereja-gereja megah yang dibangun di masa itu,” tulis mereka.  

Pada masa itu, lanjut Andre dan Ishak, banyak petani cengkeh Minahasa mampu membeli kendaraan bermotor pribadi secara tunai, misalnya, sepeda motor mahal (saat itu) –seperti Kawasaki atau Honda 90cc-- hanya dengan menjual satu karung cengkeh.

Bahkan konon waktu itu, warga di beberapa kampung yang sedang panen cengkeh berbondong-bondong ke Manado untuk berbelanja. Karena uang di kantong melimpah, bukan hanya kebutuhan pangan dan sandang serta motor dan mobil yang dibeli. Kulkas pun mereka bawa pulang ke kampung. Padahal, waktu itu listrik belum masuk hingga kampung mereka. Karena tidak ada listrik, kulkas tentu tidak dapat berfungsi sebagaimana ia sebagai alat pendingin. “Lantaran nda ada listrik, kulkas dorang pake jadi lemari baju,” begitu cerita kelakar yang masing sering terdengar di warung-warung cap tikus hingga sekarang.   

Pras Pesot, warga Desa Kombi, yang mereka wawancara menggambarkan betapa petani cengkeh saat itu benar-benar sejahtera. Pesot berujar dalam dialek lokal, “ “Waktu lalu harga cingke masi bagus-bagus dan perekonomian masih bae... sekitar tahun 1977 harga cingke 7.000 sampe 8.000 rupiah per kilo. Harga seng waktu itu saja masi 3.000 rupiah satu lembar. Kalo sekarang harga 1 kilo cingke nyanda bisa beli 1 lembar seng. Sejak tahun 1977, masyarakat di sini so banya yang pake seng dorang pe atap, kira-kira 98 persen rumah su pake atap bagus. Juga masyarakat su banyak punya motor.”

Namun semua itu seolah sirna begitu saja. Kejayaan diganti dengan keterpurukan harga. Pemerintah orde baru yang sudah semakin kuat dan anak-anak Soeharto yang juga mulai masuk ke dunia bisnis rezim orde baru  membuat kebijakan tidak berpihak kepada para petani cengkeh. Mereka melakukan impor cengkeh besar-besaran yang harganya lebih murah dari pada cengkeh hasil petani dalam negeri. Ketika para petani cengkeh semakin gerah dan mulai melakukan protes, pada tahun 1992, pemerintah membentuk Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC). Presiden Soeharto, dengan Keputusan Presiden Nomor 20/1992 menunjuk putra bungsu kesayangannya, Hutomo Mandala Putra, sebagai pemimpin BPPC.

”Bukannya melindungi petani cengkeh dalam negeri, BPPC ternyata kemudian malah lebih menyengsarakan mereka. BPPC menetapkan harga beli cengkeh dari para petani sebesar Rp 7.500 per kilogram kering, satu tingkat harga yang bahkan jauh lebih rendah dari yang ditetapkan oleh Willy Lasut duapuluh tahun sebelumnya,” tulis Andre dan Ishak.  

Tahun 1998 Soeharto lengser dari kekuasaannya. Sedikit melegakan, dan sejenak kembali seperti di masa Gubernur Willy Lasut adalah ketika Abdurahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai Presiden pada tahun 2001. Harga cengkeh waktu itu mencapai Rp. 80 ribu sampai Rp. 100 ribu. Orang-orang Minahasa masih sempat lagi mengulangi kejayaannya di akhir tahun 1970-an. Ketika pesta perayaan Pangucapan Syukur mereka merayakannya dengan ‘minum bir’ tapi tidak lagi ‘cuci muka dan tangan’ dengan minuman berbusa itu. Sebab, krisis moneter 1997-1998 membuat semua harga kebutuhan pokok dan lainnya melonjak naik. (Denni H.R. Pinontoan)

 

 

Komentar
Leave a reply.