Cafe, Usaha Alternatif Anak Muda Manado

30 Agustus 2016 \\ Manado \\ 1899 Dibaca

Penulis: Meliza Mamangkey

Manado, Kawanuanews.co - Tanaman kopi memang sudah ada sejak zaman kolonial di daerah ini. Di masa itu kopi asal Minahasa bahkan terkenal sampai di pasar internasional. Namun, orang-orang tua atau yang suka baca buku-buku sejarah pasti tahu bahwa di zaman kolonial itu ada tanam paksa kopi.

Rumah-rumah kopi di Manado sudah ada sejak kira-kira pertengahan abad 20. Sampai sekarang masih banyak ditemukan di tempat-tempat tertentu. Pasangan minuman kopi ala rumah-rumah kopi tradisional ini adalah bakpao atau orang Manado dan Minahasa mengejanya biapong. Kue dari Tiongkok itu cukup dikenal dan digemari.

Tapi setiap zaman ada orangnya. Ada selera dan ada kreatifitasnya. Sebuah modifikasi kreatif dari rumah atau kedai ‘jadul’ itu, jadilah ‘Cafe’. Juga keren disebut Coffe shop.  

Sejak beberapa tahun terakhir ini, di Kota Manado ini menjamur cafe-cafe tempat orang-orang menghabiskan waktu bersama teman kerja, kuliah atau reunian teman-teman lama waktu SMA. Cafe-cafe itu ada macam-macam. Ada yang waralaba macam Starbucks Coffee yang lainnya usaha kreatif anak-anak muda.

Di jalan Pulau Miangas, IKIP Bawah Kampus, Manado ada sebuah cafe usaha patungan beberapa anak muda kreatif. Namanya Black Cup Cafe. Kedai kopi ini cukup dikenal di kalangan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi.

Orang-orang itu, Nouval Rantung, Renato Gaucho, Aria Wahastrana Sae. Mereka semua belum lama tamat kuliah.

Bagaimana sampai mereka terpikir bikin cafe?

Ceritanya menarik. Orang-orang muda ini memang hobi nongkrong di cafe-cafe. Suatu kali, cafe favorit mereka tiba-tiba tutup entah mengapa. Mereka galau. Lalu, imajinasi kreatif bekerja.

"Kenapa tidak kita yang buat sendiri?", kata Renato kepada Kawanuanews.co yang mewancarainya Senin (29/08) di tengah kesibukan melayani pelanggan.

Ide itu bersambut. Mereka kemudian bersepakat akan mendirikan cafe. Rencanapun di susun. Itu dua tahun lalu. Maka lahirlah Black Cup. Launching tanggal 27 September 2014.

“Tanggal 27 bulan September ini, Black Cup HUT kedua,” kata Renato.

Mereka bertiga adalah pemilik Black Cup sekaligu sebagai barista dan brewer cafe.

Tiga sarjana lulusan macam-macam fakultas ini pinter menangkap peluang. Menurut Renato, Black Cup dibuat awalnya untuk mewadahi para pecinta kopi dan komunitas musik yang hobinya nongkrong. Ini pas dengan mereka bertiga. Tapi, seiring berjalannya waktu, pengunjung Black Cup menjadi lebih bervariasi.

Di Black Cup, pengunjung dapat berbagai kopi single oringin.  Tempatnya pun menarik dengan gaya arsitektur yg didominasi dengan material bambu. Ruangannya terbagi menjadi dua yaitu Indoor dan Outdoor. Untuk ruangan indoor rencananya akan dibuat tempat baca buku dan roastery atau tempat roasting coffe sehingga siapa saja bisa belajar bagaimana caranya roasting coffe.

Black Cup adalah kedai kopi yang bisa dikatakan homey dan cozy. Para pengunjung sangat betah berlama-lama nongkong, dari sekedar mengobrol santai ala anak muda dengan plesetan-plesetan konyol, sampai obrolan serius tentang tugas kuliah dan pekerjaan sambil minum kopi dan mengunyah cemilan.

Keakraban terjalin di sini baik antar pengunjung maupun antar pengunjung dengan pemilik dan pelayannya.

Rencana kedepan, Black Cup akan menjadi Coffee Shop dengan menu-menu Coffe Shop Premium seperti Excelso dan Coffee Bean namun dengan harga terjangkau.

"Kenapa hanya orang yang banyak uang saja yang bisa menikmati kopi enak padahal di Indonesia banyak kopi yang enak?" Kata Renato.

 

Editor: Denni Pinontoan

Artikel Terkait
Komentar
Leave a reply.