Berpijak Masa Lalu dan Menatap Masa Depan

07 November 2016 \\ Opini \\ 353 Dibaca

Oleh: Sofyan Jimmy Yosadi *

Banyak orang salah kaprah dengan memaknai modernisasi kemudian mengabaikan sejarah dan kehidupan masa lalu. Demi alasan pembangunan maka peradaban, situs penanda budaya, dihancurkan. Untuk melegitimasi tindakannya maka jargon dan alasan keagamaan dipakai dan dibenturkan dengan budaya, adat istiadat, dan melabelinya "sesat".

Ironisnya, banyak contoh beberapa negara dan bangsa yang luar biasa maju ekonomi dan teknologinya serta peradabannya tanpa menghancurkan sejarah masa lalu. Salah satunya adalah China (Tiongkok) Zhongguo. Makam Nabi Kongzi di kota Qufu peninggalan peradaban 2500 tahun lalu, makam Kaisar Huang Di (Oey Tee) yang lebih lama lagi, ataupun Area makam Kaisar Qin Shi Huang yang menakjubkan dengan pasukan pengawal "Terakota" dirawat dan menjadi peradaban dunia, pusat pariwisata bahkan dilindungi Unesco (PBB).

Mereka berpijak pada masa lalu dan menatap masa depan yang luar biasa. China dan peradabannya tidak tabu terhadap situs kuno, makam kuno, cagar budaya namun juga tidak sekedar takjub saat melintasi alam jagat raya dengan tehnologi tinggi pesawat antariksa. Sesungguhnya, China (Tiongkok) walaupun dalam sistem pemerintahannya tidak mengatur hubungan negara dengan agama, namun era kebangkitan Sang Naga ini dilandasai filosofi dan semangat ajaran Nabi Kongzi. Ratusan "Confusius Academy" didirikan oleh pemerintah Tiongkok di seluruh dunia dengan tujuan peradaban China yang dilandasi "way of life" RU Khonghucu. Luar biasa.

Seruan untuk menghargai peradaban masa lalu, telah digemakan Nabi Kongzi 2500 tahun yang lalu. Hal tersebut dapat dilihat dalam Kitab Suci Agama Khonghucu, baik Si Shu, Wu Jing, dan Xiao Jing. Dalam kerendahan hatinya, Nabi Kongzi bersabda "Aku hanya meneruskan, tidak mencipta. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada (ajaran dan kitab-kitab) yang kuno itu" (Kitab Lun Yu, Sabda Suci VII : 1). "Aku bukanlah pandai sejak lahir, melainkan Aku menyukai ajaran-ajaran kuno dan dengan giat mempelajarinya" (Kitab Lun Yu, Sabda Suci VII : 20). Seruan Nabi Kongzi lebih jelas menyatakan "Orang yang memahami ajaran lama lalu dapat menerapkan pada yang baru, dia boleh dijadikan Guru" (Kitab Lun Yu, Sabda Sudi II : 11). Dengan mempelajari yang kuno ia dapat memahami yang baru (Kitab Zhong Yong, Tengah Sempurna XXVI : 7).

Sebagai Tou (orang) Minahasa, yang beragama Khonghucu, saya ikut aktif bersama teman-teman lintas agama berjejaring melakukan gerakan budaya yang disebut Mawale Movement melalui berbagai aktivitas diantaranya sekolah Mawale di wanua, roong, hingga kampus dengan peserta para pemuda remaja bahkan orangtua agar dapat lebih memahami budayanya. Melakukan ziarah kultura yakni perjalanan ke tempat-tempat peradaban tua Minahasa, watu tumotoa, watu lisung, waruga, situs budaya lainnya. Kegiatan lain adalah "bakudapa Mawale" diskusi tanggal 9 di setiap bulan juga diberbagai tempat. Kegiatan "Mawale Photography" memotret tanah dan adat Minahasa, membuat pameran dan mempublikasikannya. Saya dan teman-teman menjadi narasumber penelitian dari para peneliti dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan Eropa, Amerika dan negara lainnya. Juga menjadi narasumber wawancara diberbagai media massa baik elektronik, media cetak, media online.

Menerbitkan majalah, menulis berbagai artikel dan menulis buku diantaranya buku kumpulan tulisan dengan judul "Memerdekan Tou Minahasa". Melakukan Advokasi untuk membela tanah, tou dan adat budaya Minahasa. Serta masih banyak kegiatan dalam gerakan budaya Minahasa Mawale Movement demi satu tujuan agar kita sebagai generasi hari ini harus bisa mewarisi peninggalan para leluhur, menjadi penunjuk jalan bagi generasi kemudian dan selalu berpijak kepada masa lalu untuk menatap masa depan bagi peradaban Minahasa.

Kerja-kerja budaya ini bukan untuk mendapatkan "panggung" atau pusat perhatian apalagi berkeinginan menjadi pahlawan. Ini adalah kewajiban dan kesadaran demi peradaban. Menurut saya, ke depan, pilihlah Pemimpin Kabupaten & Kota di Tanah Minahasa yang peduli terhadap Tanah, adat istiadat Tou Minahasa. Pilihlah mereka yang bukan sekedar berpakaian adat Minahasa namun sesungguhnya anti dan dalam hatinya membenci.

 

Editor: Leon Manua

Foto: Reiner E. Ointoe

* Penulis adalah Advokat, Pegiat Budaya Tionghoa Minahasa, Tokoh Agama Sulawesi Utara.

 

Komentar
Leave a reply.