AS Peringati 15 Tahun Serangan 11 September Secara Khidmat

11 September 2016 \\ Internasional \\ 232 Dibaca

New York, Kawanuanews.co - Amerika Serikat (AS), Minggu (11/09) hari ini memperingati perayaan 15 tahun serangan 11 September dengan upacara yang khidmat. Pemerintah dan rakyat AS mengenang hampir 3.000 orang yang tewas pada tanggal 11 September 2001. Pada tanggal itu, pesawat yang telah dibajak menabrak gedung World Trade Center (WTC) di New York, Pentagon di Washington dan lapangan di Shanksville, Pennsylvania.

Nama-nama korban serangan tersebut dibacakan dalam upacara perayaan di Ground Zero, New York, monumen WTC yang dibangun kembali. Presiden Barack Obama memimpin upacara perayaan di Pentagon. Lalu gereja-gereja akan membunyikan loncengnya.

Presiden Barack Obama, dalam pidatonya untuk peingatan itu mengatakan, serangan 11 September itu lebih dari sebuah upaya untuk menghancurkan gedung dan upaya menyakiti rakyat Amerika.

“Mereka berusaha untuk mematahkan semangat kita dan menghancurkan nilai-nilai abadi yang mempersatukan kita sebagai orang Amerika,” kata Obama seperti dilansir dari Whitehouse.gov.

Dalam tahun-tahun berikutnya, kata Obama, kemampuan yang dimiliki orang-orang Amerika untuk mencintai dan berharap telah membimbing mereka melangkah ke depan. Rakyat Amerika telah bekerja untuk membangun kembali, menjadi lebih kuat  dari sebelumnya.

Obama menegaskan lagi, rasa sakit yang diderita bangsa mereka pada 11 September dirasakan oleh orang-orang dari setiap ras, latar belakang, dan iman.

Anak-anak muda Amerika, katanya, meski tidak menyaksikan langsung kengerian hari itu namun kehidupan mereka telah ikut dibentuk oleh peristiwa tersebut.Mereka mendengar kisah tentang tindakan pelayanan sesama rekan kerja yang menolong orang lain untuk  keselamatan, penumpang yang menyerbu kokpit

Dalam pidatonya itu, Obama mengingatkan solidaritas rakyat bangsa itu ketika peristiwa 11 September terjadi 15 tahun lalu. Katanya, banyak orang Amerika telah melakukan segala yang mereka bisa untuk membantu korban, secara sukarela menyumbangkan makanan, pakaian, dan darah.

Bagi Obama, itu semua adalah bukti kekuatan karakter bangsa mereka.

“Hari ini, kita menghormati semua orang yang kehilangan nyawa mereka dalam serangan memilukan 11 September, dan semua yang membuat pengorbanan untuk negara kita di tahun-tahun berikutnya.

Dalam memori dari jiwa-jiwa yang indah, kita bersumpah untuk terus bergerak maju,” tegas Obama. 

Pada perayaan tahun ini, Presiden Obama menetapkan 11 September 2001 sebagai "Patriot Day," dan "National Day of Service dan Remembrance."

Kongres Sahkan RUU yang Memungkinkan Warga AS Gugat Pemerintah Saudi

Sementara itu, seperti dilansir bbc.com pada Sabtu (10/09) sehari sebelum peringatan 15 tahun serangan 11 September kongres telah berhasil mengesahkan RUU yang memungkinkan keluarga korban serangan 9/11 untuk menuntut pemerintah Saudi untuk dugaan keterlibatan para pejabatnya.

Namun, Presiden Obama menyatakan akan menolak ketentuan itu, tapi para anggota parlemen bisa membatalkan veto Obama untuk pertama kalinya jika mereka bisa mengumpulkan cukup suara.

Arab Saudi, sekutu kunci AS, telah membantah terlibat dalam serangan tersebut.

Legislator dari Partai Demokrat, Jerrold Nadler, yang memprakarsai RUU itu mengatakan, "Kami ingin mengesahkannya, secara simbolis, sebelum ulang tahun ke-15 (serangan itu).

Presiden Obama memperingatkan pemerintah AS bisa menderita tuntutan-tuntutan hukum balasan jika warga Amerika diperbolehkan untuk menuntut Saudi ke pengadilan.

Tapi Terry Strada, ketua Persatuan Keluarga Korban 9/11 Untuk Keadilan Melawan Terorisme, berbeda pendapat

"Jika kita tidak mendanai organisasi teroris atau membunuh orang, maka kita tidak punya alasan untuk khawatir," katanya.

Calon presiden Demokrat Hillary Clinton, mantan senator New York, adalah salah satu pendukung RUU itu.

Awal tahun ini, Pemerintah Saudi dilaporkan mengancam untuk menarik ratusan miliar dolar dana mereka dari Amerika jika RUU Keadilan Melawan Sponsor Terorisme ini diundangkan.

Secara terpisah, sekelompok senator bipartisan AS mengumumkan dua hari sebelum itu, bahwa mereka akan mencoba untuk memblokir penjualan senjata bernilai lebih dari $1 miliar (sekitar Rp13 triliun) ke Arab Saudi.

Riyadh belum pernah secara formal dinyatakan terlibat dalam serangan 11 September 2001.

Tapi dua bulan lalu Kongres membuka dokumen rahasia 28 halaman yang menyulut kembali kecurigaan bahwa sejumlah pelaku memiliki hubungan dengan pejabat pemerintah Saudi.

Tahun lalu, seorang yang mengaku salah satu perencana 9/11 yang berada dalam tahanan AS, Zacarias Moussaoui, menyatakan bahwa seorang pangeran Saudi membantu membiayai serangan itu.

Kerajaan Arab Saudi mengatakan bahwa itu merupakan tuduhan tidak berdasar dari 'seorang penjahat sinting.'

Dari 19 pembajak peristiwa 9/11, 15 di antaranya merupakan warga Saudi. (Redaksi Kawanuanews.co)

 

Sumber: www.abc.net.au, www.bbc.com, www.usatoday.com, www.whitehouse.gov

Foto: Pemadam kebakaran New York berbaris di jalan-jalan kota setelah pesawat menghantam menara kembar (Getty Imges/http://www.margaretrivermail.com.au).

 

Komentar
Leave a reply.